Namun, syarat menikahi Dara Peta adalah Raja Brawijaya V harus bersedia masuk Islam dan menjadi mualaf.
Raja Brawijaya V menyatakan bersedia masuk Islam dan akhirnya berhasil Menikah dengan Dara Peta seorang Putri Campa.
Namun, ternyata Raja Brawijaya V tidak benar-benar masuk Islam, karena hatinya masih memeluk agamanya sebelum yakni Buddha.
Perbedaan pemahaman agama antar Brawijaya V dengan keluarganya ini membuat Raja Majapahit itu sedih, dan di suatu malam, Raja Brawijaya V bermeditasi memohon petunjuk pada Tuhan Yang Maha Esa.
Brawijaya V mendapatkan petunjuk jika kerajaan Majapahit sudah saatnya memudar kejayaannya dan “Wahyu Kedaton” akan di pindahkan ke Kerajaan Demak.
Diketahui, Pangeran Raden Fatah putra dari Prabu Brawijaya V dikatakan tidak ingin meneruskan pemerintah Kerajaan Majapahit, tetapi durinya mendirikan kerajaan Islam di Demak.
Setelah mendapatkan petunjuk, Prabu Brawijaya V memutuskan mundur dari dunia ramai dan menyepi ke puncak gunung Lawu.
Mitos pengasingan diri Prabu Brawijaya V ini masih banyak diceritakan dari mulut ke mulut saat mendaki Gunung Lagu.
Mitos lain yang ada di Gunung Lawu adalah terletak pada destinasi wisata populer yang masih berkawasan di Gunung Lawu.
Pertama pada objek wisata Grojogan Sewu, mitosnya adalah pasangan yang belum menikah berkunjung di Grojogan Sewu maka tidak akan langgeng.
Baca Juga: Siapa Syekh Jumadil Kubro Semarang? Sumber Keilmuan Wali Songo yang Dikenal dengan Tradisi Tasawuf
Mitos kedua ada pada objek wisata Telaga Sarangan yang konon katanya adanya penunggu yakni dua ekor naga.