SketsaNusantara.id - Mbah Panggung Tegal adalah seseorang yang bisa disebut sebagai Wali Allah yang menyebarkan ajaran Islam di pesisir pantai utara khususnya di daerah Tegal.
Mengulik perkembangan sejarah Islam di Tegal rasanya kurang afdol bila kita tidak mengenal sosok Mbah Panggung atau Syekh Abdurrahman Tegal ini.
Mbah Panggung merupakan keturunan dari Raja Majapahit yang hidup dalam masa Kerajaan Demak dari silsilahnya Mbah Panggung masih satu keturunan dengan Raja Brawijaya ke lima dan istrinya.
Baca Juga: Di Mana Makam Syekh Abdul Muhyi Pamijahan? Salah Satu Objek Wisata Religi Terkenal di Tasikmalaya
Mbah Panggung hidup pada masa Wali Songo dan murid dari Syekh Siti Jenar yang hidup pada abad ke 4 hingga ke 6 yang berasal dari Jazirah Arab.
Dilansir oleh SketsaNusantara.id yang dikutip dari Youtube Taufikun Makmur, inilah lokasi makam dari Mbah Panggung Tegal yang ramai peziarah.
Lokasi makam Mbah Panggung Tegal ada di Jl Kyi Haji Mukhlas Nomor 5 Kelurahan Panggung, Kecamatan Tegal Timur, Kota Tegal, lokasi Makam Mbah panggung selalu ramai dengan peziarah tiap bulan sya'ban dari berbagai daerah untuk memperingati wafatnya.
Mbah Panggung adalah seorang wali yang tinggal di Rembang Kudus dan sekitarnya, setelah adanya hukuman dari dewan wali namun tidak mempan Mbah Panggung pergi menyiarkan Islam dan berhenti di kota Tegal.
Mbah Panggung merupakan pengajiwantahan ajaran dari Syekh Siti Jenar dimana ada sebuah ajaran di masa itu ia dianggap melenceng menurut anggota dewan wali.
Banyak yang menafsirkan bila Suluk Malang Sumirang adalah sebuah jalan kegilaan dari Mbah Panggung kepada Tuhan, kemudian Mbah Panggung juga membuat Dandang Gula sebagai substansi ajaran dari Mbah Panggung atau disebut Tarik Majnun Rabbani.
Ditambah bila pada masa itu Mbah Panggung juga memelihara dua ekor anjing yang di beri nama Iman dan Tokit atau Tauhid, sehingga banyak yang menuding Mbah Panggung berada di jalan yang salah sebagai wali yang menyebarkan ajaran Islam.
Mbah Panggung juga di juluki sebagai Sunan Gesek karena akibat ajarannya itu mengandung kontroversi, dan di jatuhi hukuman dibakar hidup-hidup masa hukuman ini berlaku setelah Syekh Siti Jenar dihukum, namun saat hukuman dibakar Mbah Panggung tidak mempan.