Perlu diketahui bahwa Patih Udara ini adalah orang dari luar atau tidak memiliki darah keturunan bangsawan dari keluarga Kerajaan Majapahit.
Patih Udara memiliki kebijakan agresif dengan melakukan penyerangan kepada komunitas Islam di pesisir dan sasaran pertamanya adalah pesantren milik Sunan Giri.
Pada catatan Babad Tanah Jawi, Pasukan Majapahit yang dipimpin Patih Udara mengepung Giri Kedaton ketika Sunan Giri sedang bekerja.
Merasa terganggu karena prajurit yang datang itu, Sunan Giri merasa marah dan melemparkan penanya ke udara yang kemudian berubah menjadi keris yang disebut sebagai "Kolomunyeng".
Pernyataan dari catatan naskah itu adalah bentuk simbolisasi khususnya pada istilah "Kolomunyeng", dimana kata "Kolo" berarti kalam atau ucapan dan "Munyeng" artinya pusing.
Hal tersebut menunjukkan bahwa saat itu keadaan Sunan Giri sedang berbicara kepada para prajurit Majapahit, baik secara langsung maupun lewat surat.
Sunan Giri melakukannya agar para prajurit kerajaan tersebut saling menyerang satu sama lain dan akhirnya hancur.
Lebih jelasnya lagi, Sunan Giri ini bisa dikatakan seorang provokator yang membuat pasukan Majapahit menjadi terpecah belah.
Pada akhirnya, pihak Kerajaan Majapahit tidak menyerang lagi dengan memakai kekuatan senjata, namun dengan memberikan otonomi penuh pada Sunan Giri agar bisa memerintah dengan baik pesantren Giri Kedaton.
Setelah itu, Giri Kedaton terus berkembang menjadi kekuatan politik baru di tanah Jawa dan mengalami kemajuan hingga puncaknya pada masa Sunan Prapen.***