SketsaNusantara.id – Proses penyebaran dakwah agama Islam tak luput dengan dedikasi dari Wali Songo
Di antara sembilan Wali Songo tersebut, kedatangan Sunan Ampel yang membuat pengaruh islamisasi menjadi terorganisir.
Sunan Ampel lahir pada tahun 1401 di Champa dan merupakan putra dari Syekh Ibrahim Zainuddin As-Samarqandy dengan Dewi Candrawulan. Ayahnya merupakan putra dari Jamaluddin Akbar al-Husaini yang masuk dalam silsilah Nabi Muhammad SAW.
Sosok yang memiliki nama asli Raden Rahmat ini dipanggil dengan istilah Sunan yang merupakan gelar kewaliannya. Sedangkan, Ampel merupakan tempat ia tinggal yaitu Ampel Denta di sebelah utara Surabaya.
Saat kedatangannya ke Surabaya, Sunan Ampel tidak hanya berdakwah mengajarkan ajaran Islam namun juga membawa kebudayaan dari Champa.
Ketika Sunan Ampel melakukan dakwahnya, ia membawa tradisi keagamaan muslim Champa dengan pendekatan sufisme sehingga mudah dipahami oleh masyarakat Jawa.
Sebagaimana yang telah dilansir dari Buku Atlas Wali Songo karya Agus Sunyoto, kepercayaan muslim Champa juga diikuti pula dengan kepercayaan terhadap makhluk ghoib dan takhayul Champa yang berkaitan dengan makhluk halus yang diyakini hidup di dunia manusia.
Baca Juga: Karomah Sunan Drajat, Sosok Wali Songo yang Dikenal dengan Pendekatan Dakwah yang Humanis
Proses penyebaran kepercayaan tersebut, orang Indonesia terkena pengaruh khas Champa seperti hitungan suara tokek, kesurupan, ilmu sihir, ilmu hitam, tabu mengambil padi di lumbung pada malam hari, hingga menyebut harimau dengan sebutan “eyang”.
Masuknya budaya Champa juga dapat di kehidupan sehari-hari yaitu orang Champa yang memanggil ibu dengan sebutan Mak.
Kebiasaan orang Champa tersebut telah mengubah kebiasaan orang Majapahit yang biasa memanggil ibu dengan “ina”, “ra-ina”, dan “ibu”.
Di pesisir utara Surabaya yang menjadi tempat Sunan Ampel, Sunan Giri, Sunan Drajat, Sunan Bonang, Sunan Kudus, dan Raden Patah juga hingga sampai saat ini menggunakan sebutan Mak untuk memanggil ibu.***