SketsaNusantara.id - Kenyal dan tawar, begitulah sensasi pertama yang dirasakan ketika mencicipi papeda, santapan khas Papua dan Maluku yang unik.
Terbuat dari sagu, papeda menawarkan pengalaman kuliner yang luar biasa dengan tekstur lembut menyerupai gel dan warna putih bening yang menggoda.
Papeda, makanan tradisional masyarakat Papua, Maluku, dan sebagian Sulawesi, memiliki daya tarik tersendiri. Dalam bahasa Inanwatan, papeda disebut 'dao'.
Baca Juga: Bikin Puas! Lalapan Cak Eb di Pasuruan! Konsep Menu Prasmanan, Ada 20 Pilihan Varian Lauk Lho
Hidangan ini biasanya disajikan dengan ikan tongkol berbumbu kunyit atau kuah kuning yang kaya rempah, serta sayur ganemo dari daun melinjo muda, seperti dilansir SketsaNusantara.id dari akun TikTok SeputarIndonesia.
Tidak hanya lezat, papeda juga sarat akan nilai sejarah dan budaya.
Masyarakat adat Sentani dan Abrab di sekitar Danau Sentani, Arso, dan Manokwari menjadikan papeda sebagai makanan penting dalam acara-acara adat.
Papeda adalah simbol warisan kuliner yang tidak hanya mengisi perut tetapi juga menyatukan komunitas.
Di Raja Ampat, sagu dianggap sangat istimewa hingga mereka mengadakan upacara syukur saat panen sagu.
Upacara ini bukan hanya perayaan, tetapi juga bentuk penghormatan terhadap alam dan hasil bumi yang melimpah.
Baca Juga: Beginilah Asal-usul Kue Putu yang Jadi Kudapan Manis Khas Jawa, Ternyata Ada Pengaruh dari Tiongkok?
Papeda juga sering hadir dalam upacara adat Papua seperti Watani Kame, yang menandai berakhirnya siklus kematian seseorang.