Dalam pelatihan ini Malahayati menjadi siswa lulusan terbaik sehingga kemudian ia diberi pangkat Laksamana dan berperan sebagai kepala barisan pengawal istana serta menjadi panglima rahasia dan panglima protokol dari kesultanan Aceh Darussalam.
Pada tahun 1386, suami Laksamana Malahayati memimpin pertempuran dengan Portugis yang mencoba menyerang Aceh saat itu.
Baca Juga: 7 Peristiwa Penting Bersejarah pada 10 Muharram, Ada Nabi Ibrahim yang Selamat dari Api Raja Namrud
Disana, mereka menghadang pasukan Portugis hingga bisa dipukul mundur, namun sayang dalam pertempuran itu memakan korban hingga ribuan orang serta suami Malahayati sendiri kemudian gugur dalam pertempuran.
Saat kehilangan suaminya itulah, Malahayati begitu terpukul dan tak bisa menerima hingga kemudian ia bertekad akan menuntut balas kematian suaminya dan kemudian ia mengganti kedudukan suaminya sebagi panglima angkatan laut di Aceh.
Pasukan Inong Balee
Atas dasar keinginan untuk membalas kematian suaminya, Malahayati kemudian menggantikan kedudukan suaminya sebagai panglima perang angkatan laut.
Ia mengusulkan kepada sultan Aceh untuk membentuk pasukan yang terdiri dari janda prajurit Aceh yang telah gugur dalam perang.
Rupanya permintaan itu disambut baik oleh Sultan dimana kemudian diangkat sebagai pemimpin dengan pangkat Laksamana. Sebuah pangkat perempuan pertama didunia yang disandangnya
Pasukan istri-istri prajurit yang gugur di medan perang itu kemudian diberinya nama Inong Balee, yang artinya perempuan berstatus janda dari prajurit yang gugur dalam pertempuran melawan Portugis.
Jumlah Inong Balee sangat fantastis yakni 2000 orang dan semuanya adalah wanita muslim pilihan hingga menjadi pasukan elit yang sangat terlatih.
Untuk itu Inong Balee kemudian menjadi pasukan elit wanita yang disegani dunia saat itu, dimana mereka hebat dalam pertempuran darat dan juga laut.
Selain berhasil membangun benteng pelindung yang begitu kokoh, Inong Balee juga memiliki 100 kapal besar dengan kapasitas 400 pasukan masing-masing kapal.
Kedatangan Cornelius dan Frederic De Houtman