Meski tak ada tanggal pasti, para arkeolog menduga letusan terjadi sebelum akhir abad ke-13.
Naskah babad lain seperti Babad Sembalun dan Babad Suwung turut menyebutkan letusan tersebut, mengungkap bagaimana desa-desa di Lombok hancur oleh aliran abu, gas, dan lahar.
Selain mempengaruhi Lombok, letusan Samalas juga menyebabkan krisis di Bali dan Sumbawa, menurunkan jumlah penduduk dan mempermudah penaklukan oleh Raja Kertanegara dari Singhasari pada tahun 1284.
Kawasan pantai barat Sumbawa hingga kini tetap sepi penduduk, kemungkinan akibat larangan menetap di kawasan terdampak letusan.
Pada tahun 2013, ahli gunung berapi dari Prancis, Franck Lavigne, dan timnya mengungkap bahwa letusan berasal dari Gunung Samalas.
Studi geokimia material vulkanis membuktikan bahwa Samalas meletus pada tahun 1257, menambah daftar gunung berapi Indonesia dengan dampak global.
Letusan Samalas menyebabkan krisis global pada tahun 1258 hingga 1259, terutama di Eropa Barat dengan gagal panen, kelaparan, dan gangguan cuaca.
Letusan ini mengubah banyak hal di Lombok, termasuk evolusi bentang alam dan perkembangan kota-kota.
Letusan Samalas menimbulkan efek kupu-kupu, di mana fenomena kecil di suatu tempat mampu membawa dampak signifikan di belahan dunia lain.
Dalam kasus ini, letusan mengakibatkan bencana hingga ke Benua Eropa, mempengaruhi kondisi sosial-politik, kesehatan, iklim, dan bentang alam.
Gunung Samalas, meski hanya menyisakan Danau Segara Anak, meninggalkan jejak yang mendalam dalam sejarah lokal dan global, mengungkap fakta sejarah yang hilang sebelum abad ke-13.***