jelajah

7 Muazin Sholat di Masjid Sang Cipta Rasa Cirebon Konon untuk Mengusir Jin Jahat, Warisan Petaka Aji Menjangan Wulung Jelang Subuh

Senin, 1 Juli 2024 | 06:30 WIB
Tradisi 7 muazin di Masjid Agung Sang Cipta Rasa Cirebon. (Tangkap layar buku Karakteristik & Mitos Masjid Agung Peninggalan Kerajaan Islam di Jawa karya Fairuz Sabiq (2021))

SketsaNusantara.id - Lazimnya, sebuah masjid hanya memiliki 1 muazin yang bertugas saat adzan dan qomat.

Namun, ada yang berbeda dari Masjid Agung Sang Cipta Rasa di Cirebon. Saat ibadah sholat Jumat, ada 7 muazin yang bertugas untuk mengumandangkan seruan panggilan sholat kepada seluruh laki-laki dewasa di hari suci tersebut.

Masjid ini berada di dalam kompleks Keraton Kasepuhan, Kota Cirebon, Provinsi Jawa Barat, persis di bagian barat alun-alun, sebagaimana konsep tata letak yang diajukan oleh Sunan Kalijaga.

Baca Juga: 4 Lokasi Petilasan Sunan Bonang, Kunjungi Masjid Agung Tuban Sebagai Destinasi Populer, Nuansa Megah Bikin Salfok!

Pendirian masjid ini terinspirasi oleh Masjid Agung Demak yang memang menjadi patokan bangunan-bangunan tempat ibadah umat Islam di Jawa masa itu.

Lalu, kenapa ada 7 muazin yang bertugas pada saat ibadah sholat Jumat?

Sejarah dari bermulanya tradisi tersebut berawal dari keyakinan masyarakat bahwa 7 muazin yang bertugas itu dapat mengusir jin jahat.

Baca Juga: Kisah Sunan Kalijaga dalam Pemilihan Arah Kiblat Sebagai Peranan Penting Pendirian Masjid Agung Demak, Simbol Popularitas Kerajaan?

Dilansir SketsaNusantara.id dari buku Karakteristik & Mitos Masjid Agung Peninggalan Kerajaan Islam di Jawa karya Fairuz Sabiq (2021), tradisi itu bermula ketika ada gangguan dari Aji Menjangan Wulung menjelang waktu sholat Subuh.

Siapa sosok Aji Menjangan Wulung ini?

Dalam cerita yang beredar di masyarakat Cirebon, Aji Menjangan Wulung adalah sosok pendekar sakti yang memiliki ilmu hitam.

Baca Juga: Di Luar Nalar, Bisa Pindahkan Masjid Dalam 1 Malam? Deretan Karomah Sunan Drajat Wali Songo Patut Diacungi Jempol

Disebutkan pula ia sangat membenci Islam dan para penganutnya. Oleh karena itu, ia menjadikan Masjid Agung Sang Cipta Rasa sebagai sasaran pelampiasan kebenciannya itu.

Ia kerap memanjat dan mengintai di atas dinding masjid, lalu menyerang setiap orang yang akan melantunkan seruan panggilan sholat.

Halaman:

Tags

Terkini