Secara ilmiah, leluhur orang Sunda didominasi oleh orang Melayu purba dan Melayu kuno, dengan sedikit pengaruh dari Australomelanesoid, Dravida, dan ras lainnya.
Inilah sebabnya, orang Sunda umumnya memiliki ciri fisik seperti kulit putih atau kuning, rambut hitam lurus, dan hidung kecil atau sedang.
Di daerah pesisir, seperti bekas kerajaan Salakanagara dan Tarumanegara, orang Sunda cenderung berkulit coklat atau hitam serta berambut ikal, karena tingginya percampuran ras.
Sebagai salah satu suku terbesar di Indonesia, orang Sunda memiliki sejarah dan kebudayaan yang kaya dan kompleks.
Mulai dari hunian orang Sahul, Melanesia, Melayu purba, Dravida, hingga Melayu kuno, setiap gelombang penduduk awal membawa ciri kehidupan dan kebudayaan yang beragam.
Orang Sunda juga terkenal sebagai pelaut ulung yang menjelajahi Nusantara dan mancanegara.
Sejak abad ke-14, orang Sunda telah memiliki aksara sendiri, yaitu aksara Ngalagena, yang digunakan pada prasasti Kawali.
Sayangnya, aksara ini kurang mendapat perhatian dan perlahan terlupakan.
Pengaruh berbagai etnis dan agama juga turut membentuk kebudayaan Sunda saat ini.
Agama Hindu, Buddha, dan Islam telah mempengaruhi peradaban Sunda, meskipun agama asli Sunda Wiwitan masih dipraktikkan di beberapa tempat.
Jejak sejarah panjang dan kebudayaan orang Sunda, mulai dari zaman purba hingga pasca-kemerdekaan, masih bisa dilihat di hampir seluruh wilayah Jawa Barat.