Kemudian, makanan yang sudah dihidangkan dibagikan kepada masyarakat sekitar, lalu disantap bersama-sama.
Akademisi pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM), Dr. Siwi Indarti, M.P. menyebut bahwa tradisi tersebut adalah bentuk rasa syukur atas proses budidaya padi yang telah mencapai masa panen.
“Wiwitan ini sebagai bentuk rasa syukur karena setelah melewati proses budidaya padi, kita bisa sampai di waktu panen pagi ini”, ujarnya, dikutip dari situs PIAT (Pusat Inovasi Agro Teknologi) UGM.
Selain sebagai ungkapan rasa syukur, Wiwitan juga mencerminkan hubungan harmonis antara manusia dan alam.
Selain itu, ritual ini menjadi praktik konkrit menjaga kelestarian tradisi pertanian yang telah berlangsung turun-temurun.***