jelajah

Fakta Menarik Candi Ganjuran Yogyakarta, Perpaduan Budaya Jawa dan Katolik dengan Keajaiban Tirta Perwitasari

Kamis, 21 Mei 2026 | 20:00 WIB
Candi Ganjuran di Bantul, Yogyakarta. (Jogjaprov.go.id)

SketsaNusantara.id - Yogyakarta memiliki banyak destinasi wisata sejarah dengan cerita unik di baliknya. Salah satu yang cukup dikenal masyarakat adalah Candi Ganjuran di Kabupaten Bantul.

Tempat ini bukan hanya menjadi lokasi ibadah umat Katolik. Candi Ganjuran juga dikenal sebagai destinasi wisata ziarah dengan nuansa budaya Jawa yang masih terasa kuat.

Bangunan bercorak Hindu-Jawa tersebut berdiri di kawasan Ganjuran, sekitar 20 kilometer selatan Kota Yogyakarta. Banyak peziarah maupun wisatawan datang untuk melihat arsitekturnya yang berbeda dari tempat ibadah lainnya.

Baca Juga: ‎Bukan di Luar Negeri! Ashanty Sekeluarga Liburan Jelajahi Magelang, mampir ke Candi Borobudur

Candi Ganjuran dibangun oleh keluarga Schmutzer pada tahun 1927. Monumen tersebut didirikan sebagai bentuk rasa syukur setelah pabrik gula Gondang Lipuro milik keluarga itu berhasil bertahan dari krisis ekonomi dunia.

Pada masa itu, banyak pabrik gula mengalami kebangkrutan. Namun, usaha milik keluarga Schmutzer tetap berjalan di tengah kondisi sulit.

Selain sebagai monumen syukur, bangunan tersebut juga menjadi simbol iman kepada Hati Kudus Tuhan Yesus. Konsep bangunannya dibuat menggunakan pendekatan budaya Jawa.

Baca Juga: Viral di Media Sosial Kelompok Kejawen Jawa Tengah Gelar Ritual di Candi Siwa Prambanan, Pelaku Mengaku Mendapatkan Bisikan Gaib

Dikutip dari Gerejaganjuran.org, peletakan batu pertama pembangunan dilakukan pada 26 Desember 1927. Upacara tersebut dipimpin oleh Mgr van Velsen, SJ.

Pada waktu itu di Negeri Belanda sudah banyak di dirikan monumen untuk menghormati Hati Kudus Tuhan Yesus, tetapi di Ganuran belum ada.

Bangunan candi dirancang menggunakan gaya Hindu-Buddha Jawa. Bentuknya memadukan unsur arsitektur Mataram Kuno dan Majapahit.

Keunikan itu membuat Candi Ganjuran berbeda dari tempat ziarah Katolik lainnya di Indonesia. Di dalam kompleks candi juga terdapat patung Hati Kudus bercorak Jawa yang dikenal sebagai Kristus Raja.

Menurut catatan sejarah, pembangunan candi juga berkaitan dengan kondisi sosial masyarakat sekitar. Kawasan perkebunan tebu di Ganjuran sempat mengalami masa sulit sejak 1882.

Persaingan antarperkebunan membuat situasi ekonomi wilayah tersebut cukup berat selama bertahun-tahun. Karena itu, pembangunan monumen dilakukan sebagai tanda rasa syukur atas perlindungan yang dipercaya diterima kawasan tersebut.

Halaman:

Tags

Terkini