Di kawasan Siti Hinggil Kidul terdapat pohon soka dan pelem cempora. Kedua pohon itu melambangkan benih laki-laki dan perempuan.
Perjalanan simbolik kemudian menuju Kamandhungan dan Kemagangan. Area tersebut menggambarkan manusia yang belajar menuju kedewasaan.
Konsep berikutnya disebut paran atau tujuan akhir kehidupan manusia. Filosofi itu dimulai dari Tugu Golong Gilig menuju keraton.
Tugu Golong Gilig dahulu memiliki bentuk berbeda dibanding sekarang. Bangunan awalnya lebih tinggi dengan puncak berbentuk bulat.
Tugu tersebut melambangkan persatuan kehendak manusia menuju Sang Pencipta. Warna putih pada tugu juga dimaknai sebagai kesucian hati.
Dari kawasan tugu hingga keraton terdapat sejumlah jalan penuh simbol. Jalan Margatama berarti jalan menuju keutamaan hidup.
Jalan Malioboro dimaknai sebagai penggunaan obor penerang kehidupan. Sementara Jalan Margamulya melambangkan jalan menuju kemuliaan.
Secara filosofis, Tugu Golong Gilig melambangkan golonging cipta, rasa, lan karsa untuk menghadap Sang Khalik.
Di sepanjang jalur itu juga ditanam berbagai pohon simbolik. Pohon asam melambangkan ketertarikan, sedangkan pohon gayam bermakna ketenangan.
Perjalanan menuju keraton kemudian melewati Alun-Alun Utara dan Siti Hinggil Lor. Kawasan tersebut menggambarkan berbagai ujian kehidupan manusia.
Di area Kedhaton Keraton Yogyakarta terdapat pelita abadi Kiai dan Nyai Wiji. Api kedua pelita itu disebut tidak pernah padam sejak masa Sri Sultan Hamengku Buwono I.
Selain bangunan, keberadaan pasar, masjid, dan pusat pemerintahan juga memiliki makna khusus. Semuanya dirancang sebagai simbol keseimbangan kehidupan masyarakat.
Sumbu Filosofi Yogyakarta kini menjadi bagian penting identitas budaya kota tersebut. Tata ruangnya bukan hanya penanda sejarah, tetapi juga simbol perjalanan hidup manusia dari lahir hingga kembali kepada Sang Pencipta.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. KLIK DI SINI!