jelajah

Jejak Kuliner Wali Songo, 5 Makanan Legendaris Sarat Makna Toleransi yang Masih Eksis hingga Kini

Sabtu, 2 Mei 2026 | 13:00 WIB
5 kuliner legendaris warisan Wali Songo yang unik, kaya sejarah, dan tetap digemari hingga kini (Instagram @foodsurvivor)

SketsaNusantara.id- Warisan budaya Indonesia tidak hanya tercermin dalam tradisi dan situs sejarah, tetapi juga dalam ragam kuliner yang masih bertahan hingga saat ini. Sejumlah makanan khas Nusantara bahkan memiliki keterkaitan erat dengan dakwah para Wali Songo, tokoh penting dalam penyebaran Islam di Pulau Jawa.

Kuliner-kuliner tersebut bukan sekadar hidangan, melainkan sarat nilai filosofi, kearifan lokal, hingga pesan toleransi yang diwariskan lintas generasi. Salah satu yang paling dikenal masyarakat adalah Soto Kudus.

Soto Kudus memiliki keunikan tersendiri dibandingkan jenis soto lainnya di Indonesia. Jika umumnya soto menggunakan daging ayam atau sapi, hidangan ini justru memakai daging kerbau. Pilihan bahan tersebut bukan tanpa alasan. Dalam berbagai literatur sejarah, termasuk buku “Atlas Wali Songo” karya Agus Sunyoto, disebutkan bahwa Sunan Kudus menganjurkan penggunaan daging kerbau sebagai bentuk penghormatan kepada masyarakat Hindu yang tidak mengonsumsi daging sapi.

Baca Juga: Kuliner Ikonik Jawa Timur, Lontong Kupang Bu Wito di Surabaya Eksis Sejak 1980-an dan Tetap Digemari hingga Kini

Kisah ini menjadi simbol kuat toleransi antarumat beragama yang telah dipraktikkan sejak masa awal penyebaran Islam di Jawa. Hingga kini, Soto Kudus tetap menjadi ikon kuliner yang digemari masyarakat luas.

Selain Soto Kudus, terdapat sejumlah kuliner lain yang diyakini sebagai bagian dari warisan Wali Songo dan masih bertahan hingga sekarang.

Pertama adalah Sego Jangkrik. Meski namanya terdengar unik, makanan ini tidak berbahan dasar jangkrik. Sego Jangkrik merupakan nasi dengan lauk daging kerbau berbumbu santan yang dibungkus daun jati. Hidangan ini konon menjadi salah satu favorit Sunan Kudus dan hingga kini masih disajikan dalam acara keagamaan tertentu.

Baca Juga: Kuliner Termurah di Lamongan, Lontong Lodeh Rp1.000 Ini Legendaris dan Tetap Laris Hingga Tiga Generasi

Kuliner berikutnya adalah Kupat Ketheg yang lekat dengan tradisi masyarakat Gresik. Makanan ini berupa ketupat dari beras ketan yang disajikan bersama parutan kelapa dan gula. Kupat Ketheg biasanya hadir dalam perayaan Malam Selawe atau malam ke-25 Ramadan, dan disebut sebagai hidangan kesukaan Sunan Giri.

Selanjutnya, ada Docang, makanan tradisional khas Cirebon yang terdiri dari lontong, tauge, daun singkong, serta tambahan kerupuk. Hidangan ini memiliki cita rasa khas berkat kuah berbumbu rempah dan parutan kelapa. Docang dikenal sebagai salah satu kuliner rakyat yang berkembang sejak masa Wali Songo dan tetap populer hingga kini.

Kuliner lain yang tak kalah menarik adalah Caos Dhahar Lorogending. Hidangan ini disebut-sebut sebagai makanan favorit Sunan Kalijaga. Keunikan kuliner ini terletak pada proses pembuatannya yang sarat tradisi, di mana juru masak harus seorang perempuan yang telah menopause. Hingga kini, makanan ini umumnya hanya disajikan pada acara tertentu seperti hajatan atau tasyakuran.

Baca Juga: Warung Sego Sadukan Surabaya Eksis Sejak 1960, Sajikan Kuliner Tradisional Murah yang Digandrungi Anak Muda

Keberadaan kuliner warisan Wali Songo tersebut menunjukkan bahwa dakwah pada masa lalu tidak hanya dilakukan melalui ceramah, tetapi juga lewat pendekatan budaya, termasuk makanan. Strategi ini terbukti efektif dalam membangun kedekatan dengan masyarakat sekaligus menanamkan nilai-nilai kehidupan.

Di tengah modernisasi, eksistensi kuliner-kuliner ini menjadi pengingat pentingnya menjaga warisan budaya. Selain sebagai identitas bangsa, makanan tradisional tersebut juga menyimpan cerita sejarah yang relevan dengan kehidupan sosial masyarakat Indonesia hingga saat ini.***

Halaman:

Tags

Terkini