Minggu, 19 Juli 2026

Warung Sego Sadukan Surabaya Eksis Sejak 1960, Sajikan Kuliner Tradisional Murah yang Digandrungi Anak Muda

Photo Author
Zuhana Anibuddin Zuhro, Sketsa Nusantara
- Senin, 30 Maret 2026 | 08:00 WIB
Ilustrasi nasi sadukan yang legendari di Surabaya (Instagram @cicikuliner)
Ilustrasi nasi sadukan yang legendari di Surabaya (Instagram @cicikuliner)

SketsaNusantara.id - Kuliner tradisional Jawa Timur kembali menarik perhatian, salah satunya adalah sego sadukan yang kini semakin dikenal luas di Surabaya. Meski berasal dari daerah Jombang, sajian sederhana ini justru menemukan popularitas baru di Kota Pahlawan berkat inovasi penyajiannya yang berbeda dari biasanya.

Sego sadukan dikenal sebagai makanan khas yang tampilannya mirip dengan nasi kucing, yakni porsi kecil dengan aneka lauk sederhana. Namun, sebuah warung legendaris di Surabaya menghadirkan konsep berbeda. Alih-alih porsi mini, sego sadukan di tempat ini disajikan dalam ukuran lebih besar sehingga cukup mengenyangkan bagi pembeli.

Keunikan inilah yang menjadi daya tarik utama. Dalam satu porsi, pelanggan bisa menikmati nasi dengan berbagai pilihan lauk khas Jawa Timur seperti pecel, rawon, lodeh, hingga kare. Kombinasi menu yang beragam membuat pembeli memiliki banyak pilihan sesuai selera.

Baca Juga: Kuliner Khas Banyuwangi yang Melegenda, Ayam Pedas Rantinem dengan Bumbu Nampol dan Aroma Kayu Bakar

Salah satu menu favorit adalah nasi pecel yang disajikan lengkap dengan telur, mie kuning, tahu, serta peyek sebagai pelengkap. Semua bahan tersebut kemudian disiram dengan bumbu pecel khas yang memiliki cita rasa medhok atau kental akan rempah. Menariknya, seporsi makanan lengkap tersebut dibanderol dengan harga yang sangat terjangkau, yakni sekitar Rp7.000.

Dilansir SketsaNusantara.id dari Instagram @aslisuroboyo, warung yang berlokasi di kawasan Jalan Teratai ini bukanlah pemain baru di dunia kuliner. Usaha tersebut telah berdiri sejak tahun 1960 dan kini dikelola oleh generasi kedua. Meski telah melewati berbagai perubahan zaman dan persaingan dengan kuliner modern, warung ini tetap mampu mempertahankan eksistensinya.

Salah satu faktor yang membuat warung ini bertahan adalah konsistensi rasa serta harga yang ramah di kantong. Tidak hanya kalangan tua yang menjadi pelanggan setia, tetapi juga generasi muda yang mulai melirik kuliner tradisional sebagai alternatif makanan sehari-hari.

Baca Juga: 4 Fakta Le Cordon Bleu, Sekolah Kuliner Almamater Anak Natalius Pigai hingga Chef Renatta, Punya 35 Kampus?

Selain itu, jam operasional yang buka selama 24 jam menjadi nilai tambah tersendiri. Pelanggan dapat datang kapan saja, baik pagi, siang, maupun malam hari. Kondisi ini membuat warung hampir tidak pernah sepi pengunjung.

Tingginya minat pembeli bahkan tercermin dari jumlah produksi harian. Dalam sehari, warung ini dikabarkan mampu menghabiskan hingga satu kuintal beras. Angka tersebut menunjukkan betapa besarnya permintaan terhadap kuliner sederhana namun berkualitas ini.

Fenomena ini juga menjadi bukti bahwa makanan tradisional tetap memiliki tempat di hati masyarakat, meskipun tren kuliner terus berkembang. Rasa autentik, harga terjangkau, dan porsi yang mengenyangkan menjadi kombinasi yang sulit ditolak.

Baca Juga: Intip Biaya Pendidikan di Le Cordon Bleu Paris, Sekolah Kuliner Terbaik di Dunia, Bisa Mencapai Rp1 Miliar?

Bagi masyarakat Surabaya dan sekitarnya, sego sadukan bisa menjadi pilihan kuliner yang tidak hanya mengenyangkan, tetapi juga menghadirkan nostalgia cita rasa khas Jawa Timur. Dengan keunikan dan sejarah panjang yang dimilikinya, warung ini layak disebut sebagai salah satu destinasi kuliner legendaris yang patut dikunjungi.***

Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara. Di sini. KLIK DI SINI!

Editor: Zuhana Anibuddin Zuhro

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X