SketsaNusantara.id - Kuliner tradisional Jawa Timur kembali menarik perhatian, salah satunya adalah sego sadukan yang kini semakin dikenal luas di Surabaya. Meski berasal dari daerah Jombang, sajian sederhana ini justru menemukan popularitas baru di Kota Pahlawan berkat inovasi penyajiannya yang berbeda dari biasanya.
Sego sadukan dikenal sebagai makanan khas yang tampilannya mirip dengan nasi kucing, yakni porsi kecil dengan aneka lauk sederhana. Namun, sebuah warung legendaris di Surabaya menghadirkan konsep berbeda. Alih-alih porsi mini, sego sadukan di tempat ini disajikan dalam ukuran lebih besar sehingga cukup mengenyangkan bagi pembeli.
Keunikan inilah yang menjadi daya tarik utama. Dalam satu porsi, pelanggan bisa menikmati nasi dengan berbagai pilihan lauk khas Jawa Timur seperti pecel, rawon, lodeh, hingga kare. Kombinasi menu yang beragam membuat pembeli memiliki banyak pilihan sesuai selera.
Baca Juga: Kuliner Khas Banyuwangi yang Melegenda, Ayam Pedas Rantinem dengan Bumbu Nampol dan Aroma Kayu Bakar
Salah satu menu favorit adalah nasi pecel yang disajikan lengkap dengan telur, mie kuning, tahu, serta peyek sebagai pelengkap. Semua bahan tersebut kemudian disiram dengan bumbu pecel khas yang memiliki cita rasa medhok atau kental akan rempah. Menariknya, seporsi makanan lengkap tersebut dibanderol dengan harga yang sangat terjangkau, yakni sekitar Rp7.000.
Dilansir SketsaNusantara.id dari Instagram @aslisuroboyo, warung yang berlokasi di kawasan Jalan Teratai ini bukanlah pemain baru di dunia kuliner. Usaha tersebut telah berdiri sejak tahun 1960 dan kini dikelola oleh generasi kedua. Meski telah melewati berbagai perubahan zaman dan persaingan dengan kuliner modern, warung ini tetap mampu mempertahankan eksistensinya.
Salah satu faktor yang membuat warung ini bertahan adalah konsistensi rasa serta harga yang ramah di kantong. Tidak hanya kalangan tua yang menjadi pelanggan setia, tetapi juga generasi muda yang mulai melirik kuliner tradisional sebagai alternatif makanan sehari-hari.
Selain itu, jam operasional yang buka selama 24 jam menjadi nilai tambah tersendiri. Pelanggan dapat datang kapan saja, baik pagi, siang, maupun malam hari. Kondisi ini membuat warung hampir tidak pernah sepi pengunjung.
Tingginya minat pembeli bahkan tercermin dari jumlah produksi harian. Dalam sehari, warung ini dikabarkan mampu menghabiskan hingga satu kuintal beras. Angka tersebut menunjukkan betapa besarnya permintaan terhadap kuliner sederhana namun berkualitas ini.
Fenomena ini juga menjadi bukti bahwa makanan tradisional tetap memiliki tempat di hati masyarakat, meskipun tren kuliner terus berkembang. Rasa autentik, harga terjangkau, dan porsi yang mengenyangkan menjadi kombinasi yang sulit ditolak.
Bagi masyarakat Surabaya dan sekitarnya, sego sadukan bisa menjadi pilihan kuliner yang tidak hanya mengenyangkan, tetapi juga menghadirkan nostalgia cita rasa khas Jawa Timur. Dengan keunikan dan sejarah panjang yang dimilikinya, warung ini layak disebut sebagai salah satu destinasi kuliner legendaris yang patut dikunjungi.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara. Di sini. KLIK DI SINI!
Artikel Terkait
Soto Kerbau Jember, Lebih dari Sekadar Kuliner, Ada Jejak Toleransi dalam Tiap Mangkuknya
Tradisi Malam Slawe dan Kupat Ketheg, Kuliner Khas Gresik yang Melekat dengan Jejak Dakwah Sunan Giri
Kisah Bakso Cendana: Langganan Keluarga Cendana yang Telah Melegenda, Cocok Jadi Pilihan Kuliner Saat Lebaran
Mudik ke Jember dan Mau Makan Pecel Maknyus? Inilah 4 Tempat Kuliner Pecel yang Wajib Anda Coba
Kilas Balik Perjuangan Aldi Taher saat Terjun ke Dunia Kuliner, Sebelum Viral Bisnis Burger Rupanya Pernah Gagal Jualan Mie Ayam