jelajah

Menari Gandrung di Depan Makam? Mengenal Rangkaian Petik Laut Muncar Banyuwangi, hingga Berdoa di Pulau Keramat

Senin, 26 Januari 2026 | 20:00 WIB
Arak-arakan Petik Laut Muncar Banyuwangi ke Pulau Sembulungan. (TikTok/@_kholilrmn99)

Rangkaian Acara Petik Laut Muncar Banyuwangi

Rangkaian acara Petik Laut Muncar Banyuwangi dimulai dengan mempersiapan perahu kecil yang kerap disebut perahu sesaji. Pembuatan perahu ini dilakukan semaksimal mungkin dan harus terlihat bagus.

Pada malam hari dan sebelum keberangkatan melarungkan sesaji biasanya dilakukan doa bersama. Umumnya dilakukan di beberapa rumah yang memiliki kapal-kapal besar dan di lokasi upacara.

Hal ini dikarenakan yang melaksanakan petik laut biasanya juragan kapal atau orang-orang yang memiliki kapal besar.

Biasanya perahu sesaji akan dibawa beriringan atau arak-arakan dari rumah lurah hingga sampai di lokasi upacara, yang diiringi dengan musik tradisional ataupun drumband.

Setelah sampai di lokasi upacara, sebelum berangkat kepala daerah akan diminta untuk memasang pancing emas ke dalam lidah kambing. Hal ini menjadi simbol permohonan agar mendapat hasil yang lebih banyak.

Setelah melakukan pemasangan pancing emas, perahu-perahu biasanya akan berjalan beriringan ke tengah laut membawa sesaji yang disiapkan, sambil bersholawat.

Setelah sampai di pelawangan atau kawasan semenanjung Sembulungan, biasanya semua perahu akan berhenti dan melarungkan sesaji tersebut.

Yang mana, pada saat melarungkan sesaji biasanya akan dilakukan secara bersamaan dengan membaca doa oleh sesepuh di sana.

Setelah melarungkan perahu kecil yang berisi aneka sesaji, rombongan tersebut biasanya akan bersinggah di Pulau Sembulungan atau pulau keramat.

Disana menjadi akhir dari rangkaian acara Petik Laut Muncar Banyuwangi, yang diikuti dengan berbagai rangkaian hiburan dan doa memohon keselamatan.

Doa bersama dilakukan di depan makam Sayyid Yusuf, yang merupakan pelopor acara Petik Laut, dan orang pertama yang membuka daerah tersebut.

Kemudian dilanjutkan dengan hiburan Tari Gandrung, yang dibawakan oleh 6 orang penari, dua diantaranya harus perawan atau gadis. Tari Gandrung dilakukan di depan sebuah makam, yang mana makam tersebut dianggap sebagai makam keramat penari Gandrung.

Biasanya hiburan Tari Gandrung akan berlangsung hingga sore hari. Setelah rangkaian acara selesai di Pulau Sembulungan, tentu para rombongan akan kembali ke lokasi upacara.

Tak berhenti disitu, perahu nelayan yang akan mendarat harus diguyur dengan air laut. Hal tersebut kerap dikatakan sebagai Hyang Iwak atau Dewi Laut.

Halaman:

Tags

Terkini