jelajah

Gorontalo Lebih Dulu Merdeka 3 Tahun dari Indonesia? Inilah Fakta Sejarah Hari Patriotik 23 Januari

Minggu, 18 Januari 2026 | 20:00 WIB
Ilustrasi sejarah Hari Patriotik 23 Januari 1942. (Pexels/Dwi Setyo)

SketsaNusantara.id - Setiap 23 Januari, rakyat Provinsi Gorontalo memperingati Hari Patriotik 23 Januari 1942. Peringatan ini menandai salah satu peristiwa penting dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Hari Patriotik juga dikenal sebagai Hari Proklamasi Gorontalo. Pada tanggal tersebut, rakyat Gorontalo menyatakan kemerdekaan Indonesia tiga tahun sebelum proklamasi nasional di Jakarta tahun 1945.

Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa perjuangan kemerdekaan berlangsung di berbagai daerah. Gorontalo menjadi salah satu wilayah yang lebih awal menyatakan lepas dari penjajahan Belanda.

Baca Juga: Siapa Dheninda Chaerunnisa? Ketua Komisi III DPRD Gorontalo Utara yang Mencibir Massa Aksi Saat Sampaikan Aspirasi, Ternyata Belum Lulus Sarjana!

Hari Patriotik 23 Januari 1942 diperingati sebagai momentum kebangkitan semangat juang masyarakat. Pemerintah daerah menetapkannya sebagai hari bersejarah yang wajib diperingati setiap tahun.

Dilansir SketsaNusantara.id dari Gorontalo.kemenag.go.id, Proklamasi Kemerdekaan Gorontalo dibacakan oleh Nani Wartabone dan didampingi Kusno Danupoyo. Keduanya dikenal sebagai Dwi Tunggal dari Sulawesi.

Pembacaan proklamasi berlangsung di halaman Kantor Pos Gorontalo. Bendera Merah Putih dikibarkan sekitar pukul 10 pagi waktu setempat. Lagu Indonesia Raya dinyanyikan oleh rakyat yang hadir.

Baca Juga: Harta Kekayaan Dheninda Chaerunnisa, Ketua Komisi III DPRD Gorontalo Utara yang Mencibir Orator Saat Aksi Demo

“Proklamasi ini dilaksanakan tepatnya 3 (tiga) tahun lebih awal dari Proklamasi Kemerdekaan Indonesia di Jakarta tahun 1945 oleh Soekarno dan Moh. Hatta.”

Peristiwa 23 Januari 1942 merupakan hasil proses panjang perlawanan rakyat Gorontalo. Situasi bermula dari rencana Belanda melakukan bumi hangus aset pemerintahan.

Rencana tersebut diketahui oleh Saripa Rahman Hala, penyelidik pemerintah kolonial. Informasi kemudian diteruskan kepada Kaharu dan Ahmad Hippy. Informasi itu sampai ke Kusno Danupoyo dan Nani Wartabone.

Nani Wartabone menyaksikan langsung penderitaan rakyat Gorontalo. Penindasan Belanda terjadi di berbagai wilayah, termasuk kampung halamannya di Suwawa.

Kondisi tersebut mendorong lahirnya rapat rahasia di kediaman Kusno Danupoyo. Rapat menghasilkan pembentukan Komite Dua Belas sebagai wadah perjuangan rakyat.

Komite ini dipimpin Nani Wartabone dan Kusno Danupoyo. Anggotanya berasal dari tokoh-tokoh pergerakan Gorontalo.

Halaman:

Tags

Terkini