Perang tanding berlangsung sengit dan berlarut-larut. Rajamala memiliki kesaktian yang membuatnya hidup kembali.
Setiap kali tewas, jasad Rajamala diceburkan ke Sendang Panguripan. Ia bangkit tanpa bekas luka.
Situasi itu membuat Abilawa kelelahan. Pertarungan pun sempat terhenti.
Dalam versi pedalangan lain, peran Arjuna sangat menentukan. Arjuna menyamar sebagai Kedi Wrahatnala.
Ia menyadari sumber kesaktian Rajamala berasal dari sendang. Anak panah pusaka Bramasta kemudian dicelupkan ke air sendang.
Setelah itu, Rajamala tidak lagi hidup kembali. Abilawa menghabisi Rajamala, Rupakenca, dan Kencakarupa sekaligus.
Kematian ketiganya memicu serangan Kurawa dan Trigarta. Kerajaan Wirata diserbu secara tiba-tiba.
Pandawa yang masih menyamar turun tangan membantu. Bima dan Arjuna membebaskan Prabu Matswapati.
Keberanian Abilawa membuat Kurawa mengenali jati diri Bima. Mereka menuntut hukuman diulang.
Namun para tetua Astina menyatakan masa penyamaran telah genap. Pandawa dinyatakan bebas dari hukuman tambahan.
Dalam Mahabharata, nama samaran Bima dikenal sebagai Balawa atau Walala. Ia digambarkan bekerja sebagai juru masak dan pemotong hewan.
Dalam seni rupa wayang kulit, wujud Jagal Abilawa berbeda-beda. Rambutnya digambarkan terurai hingga gimbal, sesuai gagrag pewayangan.
Tokoh ini menjadi simbol penyamaran sempurna. Sosok sederhana yang menyimpan kekuatan besar dalam kisah wayang kulit.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. KLIK DI SINI!