SketsaNusantara.id - Di Kampung Tanah Bira, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan, berdiri sebuah warisan maritim yang mendunia, yakni kapal Pinisi.
Kapal ini dulunya menjadi tumpuan perdagangan masyarakat Bugis. Kini, peran itu bergeser. Pinisi tak lagi sekadar kapal pengangkut barang, melainkan berubah fungsi menjadi kapal wisata yang melintasi laut dengan nuansa tradisi.
Meski tujuan penggunaannya berubah, cara pembuatannya tetap memegang teguh adat dan ritual leluhur.
Dilansir dari buku Warisan Bahari Indonesia, proses pembuatan Pinisi tidak bisa dilakukan sembarangan. Tahapan awal dimulai dari pemilihan dan penebangan pohon.
Kayu yang dipilih harus sesuai peruntukan, terutama untuk bagian lunas, yang menjadi dasar utama kapal.
Penebangan tidak boleh dilakukan sembarangan waktu. Menurut kepercayaan Bugis, memotong kayu pada tengah hari adalah pantangan besar. Karena itu, kegiatan ini dilakukan sebelum matahari tepat di atas kepala.
“Ketika tengah hari menurut keyakinan orang Bugis adalah sangat dipantangkan untuk memotong kayu,” demikian dijelaskan dalam tradisi yang diwariskan turun-temurun.
Kepercayaan ini menunjukkan betapa kuatnya hubungan spiritual antara manusia, alam, dan laut dalam budaya Bugis.
Kayu yang digunakan tidak dipilih sembarangan. Pohon-pohon dengan batang melengkung alami menjadi pilihan utama untuk membentuk rangka kapal.
Lengkungan tersebut memudahkan proses pembuatan dan memperkuat struktur kapal. Setelah penebangan dan pemilihan bahan selesai, tahap selanjutnya adalah membuat lunas atau kalebisiang. Bagian ini menjadi inti kapal karena rentan terhadap kebocoran.
Lunas dibuat dari balok kayu jati berukuran sekitar 30–40 cm. Setelah itu, dilakukan penyambungan menggunakan dua teknik tradisional: teknik laso (sambungan masuk) dan teknik jembatan (tumpuk).
Dulu, sambungan diperkuat dengan pasak kayu. Kini, sebagian pengrajin mulai menggunakan baut dan mur agar lebih kuat.