Sekolah tersebut dibuka pada 16 Januari 1904 dan bertempat di salah satu ruangan kantor kabupaten dengan berbagai kekurangan yang ada.
Mata pelajaran yang diajarkan di sekolah ini di antaranya adalah dasar-dasar berhitung, menulis, membaca, serta pelajaran tentang agama.
Berkembang dan Berganti Nama
Seiring berjalannya waktu sekolah yang dirintis oleh Dewi Sartika ini mendapat perhatian dari masyarakat dan mulai terjadi pertambahan siswa.
Hingga pada 1910, Sekolah Isteri berganti nama menjadi Sekolah Keutamaan Isteri dengan penambahan mata pelajaran.
Dewi Sartika pada saat itu telah memiliki seorang suami bernama Raden Kanduran Agah Suriawinata, seorang guru sekolah Karang Pamulang dan bersama-sama berjuang.
Mata pelajaran dari sekolah ini bertambah seperti adanya pelajaran memasak, menyeterika, mencuci dan membatik dalam kurikulum.
Hingga pada akhirnya Sekolah Keutamaan Isteri dibagi menjadi dua bahasa pengantar, yakni bahasa Sunda dan bagian kedua menggunakan bahasa Belanda dan Melayu.
Terhambat Perang Dunia I dan II
Pecahnya Perang Dunia I dan II menjadi penghambat dalam upaya mengembangkan Sekolah Keutamaan Isteri.
Salah satu masalah yang dialami Dewi Sartika adalah mahalnya harga barang-barang yang menjadi kebutuhan sekolah.
Pada 25 Juli 1939, Raden Agah suami Raden Dewi Sartika meninggal dunia, meninggalkan Dewi Sartika seorang diri, namun ia tidak putus asa.
Perjalanan Pengungsian
Pergantian pemerintahan dari Belanda kepada Jepang serta kekacauan yang terjadi di Kota Bandung mengharuskan Dewi Sartika berpindah untuk mengungsi dari satu tempat ke tempat lainnya.
Situasi bertambah genting saat Belanda melakukan agresi militer pada 1947. Ketika itu usia Dewi Sartika menginjak 63 tahun dengan kondisi kesehatan yang semakin memburuk.