Kesepakatan itu memberi izin kepada orang-orang Belanda untuk mengambil kayu di Teluk Jakarta sebagai bahan pembuatan dan perbaikan kapal.
Dari sinilah awal keterlibatan VOC di Kepulauan Seribu.
Melihat banyaknya kapal dagang yang singgah di Asia Tenggara, Belanda pun memilih Pulau Onrust sebagai lokasi pembangunan galangan kapal. Proyek itu dimulai pada tahun 1613, menjadikan Onrust sebagai pusat aktivitas maritim VOC di wilayah barat Nusantara.
Pembangunan Galangan Kapal dan Benteng VOC
Pada tahun 1615, VOC membangun galangan kapal dan gudang kecil di Pulau Onrust. Gubernur Jenderal Jan Pieterzoon Coen kemudian mengubah Onrust menjadi koloni kecil.
Ia mendatangkan pekerja asal Tionghoa yang dikenal rajin dan terampil, serta membangun tempat tinggal untuk mereka.
Namun, karena meningkatnya ancaman dari Banten dan Inggris pada 1618, fungsi Onrust berkembang menjadi pulau pertahanan.
Dari tahun 1656 hingga 1695, Belanda memperkuat pulau itu dengan benteng segilima lengkap dengan bastion di setiap sudutnya.
Selain benteng, berdiri pula gudang-gudang penyimpanan logam, dua kincir angin di sisi utara, serta dok kapal di bagian selatan pulau.
Menurut catatan sejarah, pada tahun 1775 terdapat sekitar 1.200 penduduk di Onrust, sebagian besar adalah tukang kayu, tentara, dan pekerja paksa.
“Sebagian besar mereka adalah tukang kayu kapal dan tentara, namun banyak juga awak kapal yang kena hukuman kerja paksa,” demikian disebut dalam catatan sejarah Pulau Onrust.
Pulau yang Tak Pernah Beristirahat
Kegiatan di Onrust nyaris tidak pernah berhenti. Dari pagi hingga malam, kapal-kapal VOC keluar masuk pelabuhan kecil ini untuk diperbaiki atau memuat barang dagangan.
Nama “tanpa istirahat” benar-benar menggambarkan kehidupan di pulau tersebut.