jelajah

Raja Yogyakarta yang Tak Pernah Tunduk pada Kolonialisme Barat, Inilah Riwayat Sri Sultan Hamengku Buwono II

Selasa, 4 November 2025 | 17:30 WIB
Sosok Sri Sultan HB II yang anti kolonial. (kratonjogja.id)

Sikap Anti-Kolonial dan Konflik dengan VOC

Seiring waktu, kebencian RM Sundoro terhadap VOC semakin kuat. Ia melihat bahwa berbagai perjanjian politik hanya menguntungkan pihak Belanda. Ketika naik tahta sebagai Sri Sultan Hamengku Buwono II pada 2 April 1792, ia menunjukkan sikap tegas menolak campur tangan asing di wilayah keraton.

Beliau menolak permintaan wakil VOC yang ingin disetarakan posisi duduknya dalam acara resmi kerajaan.

Bahkan tanpa melibatkan VOC, Sultan Hamengku Buwono II menunjuk sendiri patihnya untuk menggantikan Danurejo I yang meninggal dunia pada tahun 1799.

Tindakan-tindakan ini menunjukkan tekad kuatnya menjaga kedaulatan politik Yogyakarta.

Konflik dengan Daendels dan Penurunan Tahta

Pada 1808, Herman Willem Daendels diangkat sebagai Gubernur Jenderal Hindia Belanda di bawah kekuasaan Perancis. Ia menetapkan seluruh kerajaan Jawa harus tunduk kepada Raja Belanda. Namun, Sri Sultan Hamengku Buwono II menolak tegas perintah tersebut.

Penolakan ini membuat Daendels mengerahkan lebih dari 3.000 pasukan ke Yogyakarta. Akibat tekanan itu, Sultan Hamengku Buwono II dipaksa turun tahta pada 31 Desember 1810 dan digantikan putranya, RM Surojo atau Sultan Hamengku Buwono III.

Ketegangan tak berhenti di situ. Ketika Inggris merebut kekuasaan dari Belanda pada 1811, Sultan Hamengku Buwono II kembali merebut tahtanya dan menurunkan penggantinya.

Namun, tindakan itu memicu serangan besar dari pasukan Inggris di bawah Letnan Gubernur Thomas Stamford Raffles. Pada 20 Juni 1812, pasukan Sepoy menyerbu Keraton Yogyakarta. Sultan ditangkap dan diasingkan ke Pulau Pinang

Akhir Hayat di Kotagede

Setelah dibebaskan pada 1815, Sultan Hamengku Buwono II kembali ke Jawa, tetapi hanya sementara. Ia kembali diasingkan ke Ambon pada 1817 karena dianggap ancaman bagi stabilitas politik kolonial. Meski demikian, wibawanya tetap besar di kalangan bangsawan dan rakyat Yogyakarta.

Belanda akhirnya mengembalikannya ke Yogyakarta pada 20 September 1826 dan menobatkannya lagi sebagai sultan untuk ketiga kalinya, di tengah berkecamuknya Perang Jawa yang dipimpin oleh Pangeran Diponegoro.

Namun kesehatannya menurun, dan pada 3 Januari 1828, Sri Sultan Hamengku Buwono II wafat di usia 77 tahun. Ia dimakamkan di Kotagede, bukan di Imogiri, karena situasi perang yang tidak memungkinkan upacara pemakaman besar.

Warisan Budaya dan Karya Sastra Sri Sultan HB II

Halaman:

Tags

Terkini