jelajah

Arca Buddha Dipangkara di Laut Rempah: Pelindung Para Pelaut yang Nyaris Terlupakan dari Jalur Makassar

Kamis, 30 Oktober 2025 | 16:00 WIB
Ilustrasi patung Buddha. (Pexels/David Bartus )

“Buddha Dipangkara biasanya diletakkan di bagian ujung haluan kapal seperti arca Dewaruci yang ditempatkan di bagian ujung kapal KRI Dewaruci TNI-AL,” disebutkan dalam catatan arkeologis.

Namun, berbeda dari arca Dewaruci yang berfungsi sebagai ikon kapal layar modern, Dipangkara dipercaya benar-benar menjaga keselamatan para pelaut kuno.

Keberadaan arca Buddha Dipangkara di wilayah sekitar Selat Makassar memperkuat dugaan bahwa jalur tersebut merupakan salah satu rute penting menuju pusat rempah di Maluku.

Kapal-kapal yang melintasi selat itu kerap singgah di muara Sungai Karama, di sekitar Kampung Sikendeng, untuk mengisi perbekalan. Di sana pula ditemukan arca berlanggam Amarawati dari abad ke-2 hingga ke-4 Masehi.

Ada pula pelaut yang berbelok ke arah barat, menyusuri Sungai Mahakam menuju hulu di daerah Kutai Barat. Di kawasan ini ditemukan arca Buddha Dipangkara bergaya India Utara dari abad ke-8 Masehi, menandakan pengaruh budaya India telah menembus jauh ke pedalaman.

Diperkirakan, sekitar abad ke-4 hingga ke-5 Masehi, sudah berdiri kerajaan lokal di hulu Mahakam yang dikenal sebagai Kerajaan Kutai, salah satu kerajaan tertua di Nusantara yang mendapat pengaruh kuat dari peradaban India.

Jejak arca Buddha Dipangkara di sepanjang jalur rempah bukan hanya kisah tentang agama dan pelayaran, tetapi juga bukti bahwa Nusantara sejak lama menjadi simpul dunia, tempat bertemunya budaya, keyakinan, dan perdagangan di bawah aroma rempah yang menguar ke seluruh penjuru samudra.***

Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. KLIK DI SINI!

Halaman:

Tags

Terkini