jelajah

Arca Buddha Dipangkara di Laut Rempah: Pelindung Para Pelaut yang Nyaris Terlupakan dari Jalur Makassar

Kamis, 30 Oktober 2025 | 16:00 WIB
Ilustrasi patung Buddha. (Pexels/David Bartus )

SketsaNusantara.id - Harum rempah dari tanah Nusantara pernah menggoda banyak bangsa untuk datang jauh-jauh menyeberangi samudra.

Sejak awal Masehi, kepulauan ini menjadi magnet ekonomi dunia, memikat para pedagang dari India hingga Tiongkok.

Jejak kedatangan mereka bukan hanya tercatat dalam naskah, tapi juga tertinggal dalam bentuk benda-benda arkeologis yang menyimpan cerita panjang tentang jalur pelayaran dan pertukaran budaya.

Baca Juga: 7 Fakta Kapitayan: Agama Asli Nusantara yang Lebih Tua dari Hindu-Buddha, Warisan Leluhur Ajarkan Konsep Ketuhanan Maha Esa dan Absolut?

Bangsa India menjadi salah satu yang pertama tiba di kepulauan ini.

“Berdasarkan tinggalan budaya benda yang sampai kepada kita, antara lain berupa tembikar Arikamedu dan manik-manik batu karnelian, bangsa India datang ke Nusantara sejak abad pertama Masehi,” tertulis dalam sumber sejarah, dikutip dari buku Warisan Bahari karya Bambang Budi Utomo, terbitan Pustaka Obor, 2016.

Setelah itu, barulah bangsa Tionghoa menyusul pada sekitar abad ke-5 Masehi.

Baca Juga: Melanggar Peraturan? Viral Rombongan Wisatawan Asal Indonesia Asyik Berjoget di Depan Patung Buddha saat Berkunjung ke Thailand, Ini Reaksi Buddhis

Dalam pencarian rempah, komoditas yang sangat digemari sebagai bumbu makanan khas India seperti kari, para pelaut India berlayar melintasi Samudra Indonesia.

Mereka melewati jalur Selat Makassar dan Laut Jawa menuju kawasan timur Nusantara, daerah penghasil rempah. Di sepanjang jalur itu, ditemukan sejumlah arca perunggu yang menjadi bukti kuat kehadiran budaya India di wilayah ini.

Salah satu penemuan penting adalah arca Buddha Dipangkara yang ditemukan di Sikendeng, Sulawesi Barat, serta di Kota Bangun, Kalimantan Timur. Keduanya diyakini berasal dari jalur perdagangan kuno melalui Selat Makassar.

Di Jambi, ditemukan pula arca Dipangkara berlanggam Cola dari abad ke-11 Masehi. Semua temuan ini menjadi penanda kuat bahwa hubungan maritim antara India dan Nusantara telah terjalin sejak ribuan tahun lalu.

Buddha Dipangkara dikenal sebagai pelindung para pelaut. Dalam kepercayaan masa itu, arca Buddha Dipangkara ditempatkan di bagian haluan kapal, seolah menjadi penjaga perjalanan di tengah ombak dan badai.

Halaman:

Tags

Terkini