Bruder Timotheus kemudian mendirikan Paguyuban Wayang Wahyu Ngajab Rahayu di Solo. Komunitas ini menjadi pusat pengembangan dan pelestarian Wayang Wahyu, sekaligus tempat pelatihan bagi generasi muda yang ingin belajar memainkan atau membuat wayang dengan tema rohani.
Persebaran Wayang Wahyu di Luar Solo
Wayang Wahyu tidak hanya tumbuh di Solo. Seiring berjalannya waktu, pertunjukan ini menyebar ke berbagai daerah lain, termasuk ke Ganjuran, Bantul, Yogyakarta.
Di wilayah ini, Wayang Wahyu tampil dalam suasana religius khas, menyatu dengan tradisi Katolik yang telah berakulturasi dengan budaya Jawa.
Dari sisi visual, bentuk tokoh-tokohnya tidak menyerupai wayang purwa yang berkarakter stilisasi ekstrem, melainkan lebih menyerupai bentuk manusia.
Gaya penggambaran ini menunjukkan usaha untuk menghadirkan kisah Alkitab secara lebih realistis namun tetap dalam bingkai estetika Jawa.
Wayang sebagai Medium Dialog Budaya
Wayang Wahyu menjadi contoh bagaimana seni dapat menjembatani iman dan budaya tanpa kehilangan akar tradisi.
Pertunjukan ini memperlihatkan bagaimana pesan rohani bisa disampaikan dengan bahasa budaya setempat. Dalam bentuknya yang khas, Wayang Wahyu menegaskan bahwa pewayangan tidak hanya milik satu agama atau sistem kepercayaan, tetapi juga ruang perjumpaan antariman.
Kehadirannya sejak 1960 menjadi bukti bahwa seni tradisi mampu bertahan dan beradaptasi di tengah perubahan zaman.
Dari Solo hingga Yogyakarta, Wayang Wahyu terus hidup sebagai warisan budaya dan spiritual, menyatukan kisah Injil dengan suara gamelan di bawah cahaya kelir.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. KLIK DI SINI!