SketsaNusantara.id - Di tengah maraknya makanan modern di Yogyakarta, ada satu kuliner tradisional yang tetap bertahan karena keunikannya, yaitu mie lethek.
Mie ini dikenal bukan karena tampilannya yang menarik, tetapi justru karena warnanya yang kusam dan sederhana. Dari situlah nama “lethek”, yang berarti kotor atau kusam, berasal.
Namun, di balik warna keruh itu tersimpan nilai sejarah dan cita rasa otentik yang tak tergantikan.
Baca Juga: 40 Tahun Bertahan, Lotek dan Gado-Gado Bu Ning Jadi Ikon Kuliner Klasik Jogja
Mie lethek menjadi bagian dari warisan kuliner Yogyakarta yang diwariskan turun-temurun.
Dilansir SketsaNusantara.id dari Jogjaprov.go.id, proses pembuatannya masih mengandalkan bahan alami tanpa tambahan bahan pemutih atau pewarna buatan.
Disebut mie lethek karena bahan utamanya berasal dari singkong yang diolah menjadi gaplek sebelum digiling menjadi tepung.
Baca Juga: BRI Dorong UMKM Kuliner Asal Padang Perkuat Branding Menuju Pasar Global
Pada tahap pembuatan gaplek, singkong yang dikeringkan akan berubah warna menjadi kecoklatan. Warna itulah yang kemudian terbawa pada mie setelah proses pembuatan selesai.
Menurut penjelasan dari pengrajin, warna kusam mie lethek justru menjadi penanda keaslian produk.
Tidak ada campuran bahan kimia, hanya bahan alami dari singkong pilihan yang dikeringkan secara tradisional. Proses ini membutuhkan waktu dan ketelatenan, menjadikannya salah satu kuliner lokal yang masih mempertahankan cara lama di tengah perkembangan zaman.
Usaha pembuatan mie lethek ini dikelola oleh keluarga Yasir Feri Ismatrada, warga Dusun Bendo, Desa Trimurti, Kecamatan Srandakan, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Produksi dilakukan setiap hari dengan kapasitas mencapai 1,2 ton mie lethek. Jumlah tersebut menunjukkan tingginya minat masyarakat terhadap mie tradisional ini.