jelajah

Jejak Prajurit Legendaris Kraton Yogyakarta yang Tak Terkalahkan dan Kini Jadi Nama Kampung Wisata, Punya Senjata Khas Trisula dan Klebet Hitam

Sabtu, 27 September 2025 | 16:30 WIB
Ilustrasi prajurit Kraton Yogyakarta. (Pexels/Ditta Alfianto)

SketsaNusantara.id - Kampung wisata Patangpuluhan menjadi salah satu destinasi yang sarat sejarah di Kota Yogyakarta.

Terletak di Kecamatan Wirobrajan, kampung ini tidak hanya dikenal dengan kepadatan penduduknya, tetapi juga kaya akan warisan seni dan budaya. Wilayahnya terbentang seluas 0,44 km² dengan jumlah penduduk mencapai 7.631 jiwa.

Keistimewaan Patangpuluhan tidak berhenti pada suasana kampung seni. Nama wilayah ini ternyata memiliki jejak panjang yang berhubungan langsung dengan Kraton Yogyakarta.

Baca Juga: Apa Itu Malam Tirakatan? Mengenal Sejarah Tradisi Berkumpul Jelang 17 Agustus yang Sarat Makna, Ternyata Ada Kaitannya dengan Kraton Yogyakarta

Patangpuluhan diambil dari nama barigade prajurit legendaris Kraton, yakni Bregada Patangpuluh. Dari sinilah lahir kisah pasukan yang melegenda, hingga kemudian namanya diabadikan menjadi nama kelurahan.

Prajurit Patangpuluh dikenal sebagai pasukan dengan kekuatan yang menggetarkan lawan. Dalam catatan Kraton, mereka memiliki simbol kebesaran bernama Klebet Cakragora.

Bentuknya persegi panjang dengan dasar hitam, dihiasi bintang segi enam berwarna merah di bagian tengah. Cakra berarti senjata berbentuk roda gerigi, sedangkan gora berarti dahsyat atau menakutkan.

Baca Juga: Kraton Yogyakarta Punya Simbol Tersembunyi di Alun-Alun Selatan, Ini Arti Pohon dan Dekorasi Pagarnya

Makna simbol ini menegaskan bahwa pasukan Patangpuluh diyakini mampu mengalahkan musuh dalam bentuk apapun.

Senjata utama prajurit ini adalah tombak dan senapan. Pusaka yang paling dikenal adalah tombak Kanjeng Kiai Trisula dengan ujung trisula yang disebut Daramanggala atau Trisula Carangsoka. Pusaka ini menjadi lambang kekuatan sekaligus saksi sejarah kejayaan pasukan.

Keistimewaan lain dari Bregada Patangpuluh terletak pada iringan musik tradisi yang mendampingi langkah mereka.

Ketika berjalan cepat atau mars, pasukan ini diiringi Gendhing Bulu-Bulu. Sementara saat berjalan lambat atau lampah macak, mereka diiringi Gendhing Mars Gendera. Tradisi ini sekaligus memperlihatkan harmoni antara militer dan seni budaya dalam lingkungan Kraton.

Meski demikian, asal-usul nama "Patangpuluh" hingga kini masih menjadi misteri. Laman resmi Kraton Yogyakarta menyebutkan bahwa nama tersebut tidak berkaitan dengan jumlah anggota pasukan.

Warisan sejarah inilah yang membuat nama Patangpuluhan menjadi unik. Saat berkunjung ke kampung wisata ini, masyarakat bisa menemukan nuansa budaya lewat nama-nama jalan yang terinspirasi dari gendhing Jawa.

Halaman:

Tags

Terkini