jelajah

5 Fakta Menarik tentang Musik Keroncong, Perpaduan Barat dan Timur dalam Sebuah Harmonisasi Musik yang Bertahan hingga Kini

Selasa, 23 September 2025 | 22:00 WIB
Musik Keroncong, Perpaduan Budaya Barat dan Timur, ada sejak abad ke-17. (Kemenparekraf.go.id)

Alat musik tersebut berupa tiga jenis gitar, masing-masing bernama Jitera, Prunga, dan Macina yang jika dimainkan akan berbunyi “krong-krong” dan “crong-crong”.

2. Bermula di Kampung Tugu, Jakarta Utara

Kaum Mardijkers yang menetap di Kampung Tugu karena diasingkan oleh pemerintah kolonial Belanda membutuhkan hiburan.

Mereka tidak hanya menguasai bahasa Portugis namun juga menguasai musik Portugis dan keterampilan membuat gitar Portugis.
Mereka menghidupkan kembali musik Portugis dan membuat band untuk mengiringi tarian dan nyanyian Moresco.

Dari kelompok inilah lahir musik keroncong yang disebut dengan Krontjong Toegoe.

3. Penyebarannya Bermula dari Pertunjukkan Teater

Di Indonesia, penyebaran Musik Keroncong bermula ketika musik ini digunakan sebagai pengiring dalam teater-teater.

Penyebarannya dimulai Batavia ke Surabaya pada abad ke-20 dalam pementasan teater komedi bangsawan yang bertemakan kisah dari Timur Tengah.

Ketika teater tersebut tidak lagi dipentaskan, lagu keroncong tetap diputar dalam bentuk lagu dan instrumental yang disebut Stambul Keroncong.

4. Mendapat Pengaruh dari Belanda dan Jepang

Perkembangan Musik Keroncong tidak terlepas dari pengaruh budaya Barat terutama Belanda dan Jepang.

Budaya Barat memperkenalkan Musik Keroncong dengan instrumen-instrumen musik seperti biola, cello, contrabass, flute, gitar, dan instrumen lainnya.

Serta bersentuhan dengan irama musik seperti Jazz, Offbeat Dance, dan Hawaiian.

Pada perkembangannya di tahun 1920-an, mulai bermunculan kelompok musik keroncong yang sebagian pemainnya berasal dari Belanda dan memunculkan cap Barat pada genre ini.

Namun pada era pendudukan Jepang Musik Keroncong berkembang menjadi bernuansa Timur dan memunculkan lagu-lagu yang semula berisi tentang rayuan-rayuan dan asmara menjadi bernuansa cinta tanah air dan kepahlawanan.

Halaman:

Tags

Terkini