Lokasi ini dipilih karena relatif aman dari pengawasan tentara Jepang. Pemilihan Rengasdengklok juga dipengaruhi oleh kedekatannya dengan basis militer PETA yang mendukung para pemuda.
3. Soekarno Sempat Membawa Keluarga
Dalam perjalanan menuju Rengasdengklok, Soekarno tidak pergi sendiri. Ia membawa istrinya, Fatmawati, serta putra mereka yang masih bayi, Guntur Soekarnoputra.
Hal ini menunjukkan bahwa peristiwa tersebut bukan sekadar “penculikan” keras, tetapi juga melibatkan upaya menjaga kenyamanan dan keselamatan keluarga sang proklamator.
4. Petani Tionghoa Menyediakan Tempat dan Logistik
Inilah fakta yang jarang disebut di buku pelajaran, selama di Rengasdengklok, Soekarno, Hatta, dan rombongan menginap di rumah Djiaw Kie Siong, seorang petani Tionghoa setempat.
Selain menyediakan tempat tinggal, keluarga Djiaw Kie Siong juga membantu menyediakan makanan dan kebutuhan lain.
Dukungan ini menjadi bukti bahwa perjuangan kemerdekaan melibatkan berbagai lapisan masyarakat, tanpa memandang etnis.
5. Rencana Proklamasi Dibicarakan di Rumah Petani
Di rumah Djiaw Kie Siong, para pemimpin bangsa berdiskusi mengenai langkah-langkah yang harus diambil.
Di sanalah tercipta suasana kondusif untuk memantapkan keputusan memproklamasikan kemerdekaan. Rumah sederhana itu menjadi saksi sejarah yang mengubah perjalanan bangsa.
6. Kompromi dan Kembali ke Jakarta
Setelah perdebatan panjang, golongan tua dan muda mencapai kompromi. Soekarno dan Hatta akhirnya dibawa kembali ke Jakarta pada malam 16 Agustus.
Di sana, mereka menyiapkan naskah proklamasi yang dibacakan keesokan harinya di Jalan Pegangsaan Timur 56.
7. Situs Cagar Budaya