SketsaNusantara.id - Tak semua kue tradisional bisa dinikmati kapan saja. Di Palembang, ada satu kue berkuah yang hanya muncul dalam momen tertentu.
Kue ini biasanya disajikan saat peringatan 7 hari dan 40 hari meninggalnya seseorang. Namanya apem bekuwa.
Sekilas, bentuk apem bekuwa menyerupai serabi Bandung. Namun, kue ini hadir dengan kuah manis dari gula merah dan rempah khas.
Tak hanya soal rasa, kehadirannya juga sarat makna. Masyarakat Palembang percaya bahwa kue ini punya nilai spiritual dalam tradisi tahlilan.
Apem bekuwa bukan sekadar camilan. Makanan ini merupakan "makanan pinggiran" yang disajikan sebagai pelengkap doa. Letaknya biasanya di pinggir meja, berdampingan dengan makanan ringan seperti kue lapis, pisang goreng, atau ketan.
Dilansir SketsaNusantara.id dari buku Ensklopedi Makanan Tradisional Indonesia, Kemenbudpar, 2025, “Apem bekuwa bisa jadi tebeng api nerako,” begitu kepercayaan turun-temurun yang masih dipercaya oleh wong Palembang kalangan bawah.
Artinya, apem ini diyakini dapat menjadi pelindung dari api neraka bagi almarhum.
Cerita di balik kepercayaan ini berawal dari kisah seseorang kaya raya di masa lampau. Ia dikenal dermawan, tetapi juga penuh pamrih.
Suatu hari, ia memberikan apem bekuwa kepada seorang pengemis secara diam-diam. Malam harinya, ia bermimpi masuk neraka.
Baca Juga: Viral Video Makanan Diduga Dicemari Abu Rokok oleh Kurir Ojol, Siapa yang Bertanggung Jawab?
Namun, tubuhnya tertutupi oleh apem yang ia sedekahkan. Karena itu, api neraka tak menyentuhnya.
Kisah tersebut menyebar luas dan dipercaya hingga kini. Maka tak heran, kue ini hanya dibuat untuk keperluan tahlilan. Di luar itu, jarang sekali bisa ditemui, bahkan di pasar tradisional sekalipun.