2. Gunakan Nama Samaran di Tiap Daerah
Saat berdakwah, beliau tidak memperkenalkan diri sebagai "Sunan Kalijaga", melainkan memakai berbagai nama samaran, antara lain:
a. Ki Dalang Sida Brangti, di wilayah Pajajaran.
b. Ki Dalang Bengkok, di daerah Tegal.
c. Ki Dalang Kumendung, di Purbalingga.
d. Ki Unehan, di Majapahit.
Setiap nama menunjukkan peran dan kedekatannya dengan masyarakat setempat. Ini bukan sekadar penyamaran, tapi bentuk adaptasi sosial dan budaya yang cerdas.
3. Bayaran Nanggap Wayang
Dalam Babad Cerbon disebutkan bahwa masyarakat tidak membayar dengan uang untuk menanggap pertunjukan wayang Sunan Kalijaga. Syaratnya cuma satu, yakni membaca 2 kalimat syahadat:
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ
Asyhadu an lā ilāha illallāh wa asyhadu anna Muḥammadan Rasūlullāh
Arti: Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah.
Dengan cara ini, Islam menyebar luas dan cepat, tanpa paksaan maupun perdebatan panjang.
4. Berperan Sebagai Dalang Topeng, Barongan, hingga Dalang Pantun
Keahlian seni Sunan Kalijaga bukan hanya terbatas pada wayang. Beliau juga dikenal sebagai dalang pantun, dalang barongan, dan dalang topeng.
Semua ini bukan sekadar hiburan, tapi menjadi medium penyampaian pesan tauhid dan akhlak Islam kepada masyarakat secara halus namun mendalam.