jelajah

7 Fakta Kapitayan: Agama Asli Nusantara yang Lebih Tua dari Hindu-Buddha, Warisan Leluhur Ajarkan Konsep Ketuhanan Maha Esa dan Absolut?

Sabtu, 21 Juni 2025 | 11:00 WIB
Ilustrasi, agama asli Nusantara. (Pexels/Marek Piwnicki)

Kapitayan mengenal Tuhan sebagai Sanghyang Taya, yang berarti Hampa atau Kosong.

Tuhan dalam ajaran ini diyakini tidak bisa dipikir, dilihat, atau dibayangkan. Ini merupakan konsep monoteistik yang sangat mendalam dan filosofis.

2. Segala yang Memiliki “Tu” atau “To” Dianggap Sakral

Banyak kata dalam bahasa Jawa yang mengandung unsur “Tu” atau “To”, seperti batu (wa-tu), tugu, tulang, tungkub, hingga pintu dan tombak.

Semua itu dianggap menyimpan daya gaib, manifestasi dari Sanghyang Taya yang mempribadi sebagai Tu atau To.

3. Doa dan Ritual Dilakukan Lewat Posisi Tubuh Khusus

Ruhaniwan Kapitayan melakukan sembahyang dalam urutan postur khusus: Tu-lajeg (berdiri), Tu-ngkul (membungkuk), Tu-lumpak (bersimpuh), dan To-ndhem (sujud seperti bayi).

Semua dilakukan dalam hening, untuk menghadirkan Sanghyang Taya dalam hati (Tutu-d).

4. Tempat Suci Disebut “Sanggar”, Bukan Candi atau Pura

Bangunan suci Kapitayan disebut sanggar, biasanya berbentuk segi empat dengan lubang (Tutu-k) sebagai simbol kehampaan.

Di tempat ini para pemuka agama melakukan kontemplasi dan pemujaan terhadap Sanghyang Taya.

5. Tumbal dan Sajen Punya Fungsi Spiritual Tinggi

Sajen yang disiapkan punya makna simbolis: Tu-mpeng, Tu-ak, Tu-kung, hingga Tumbu. Untuk ritual penting, dipersembahkan Tu-mbal, yakni persembahan khusus agar mendapat perlindungan dari kekuatan gaib.

6. Pemimpinnya Disebut Ra-Tu dan Dha-Tu

Para pemimpin spiritual atau raja disebut ra-Tu atau dha-Tu, yakni orang yang sudah menerima Tu-ah (berkah positif) dan Tu-lah (peringatan negatif).

Halaman:

Tags

Terkini