jelajah

Film dr. Soebandi Tayang Tiap Akhir Pekan di Alun-Alun Jember, Mengenang Kisah Pejuang Kemerdekaan yang Namanya Abadi di Bumi Pandhalungan

Senin, 26 Mei 2025 | 16:30 WIB
Potret dr. Soebandi, seorang dokter sekaligus pahlwan nasional pejuang kemerdekaan yang namanya abadi di Jember (Instagram/pramietafitriarini)

Berasal dari keluarga ningrat, ia diberi kesempatan langka oleh pemerintah kolonial untuk melanjutkan studi kedokteran di Nederlandsche Indische Artsen School (NIAS) Surabaya, sekolah kedokteran yang menjadi cikal bakal Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (Unair).

Namun, perjalanan Soebandi meraih gelar dokter bukanlah hal yang mudah. Kuliahnya sempat terhenti ketika Jepang menduduki Indonesia pada tahun 1942.

Baca Juga: Satu-satunya di Jember! Pabrik Gula Zaman Belanda Berusia 104 Tahun, Kisah Nyata dari Film Pabrik Gula?

Kala itu, Jepang berhasil melumpuhkan Hindia Belanda (sekarang Indonesia) dan membubarkan lembaga pendidikan termasuk menutup NIAS, tempat Soebandi menuntut ilmu.

Soebandi pun tak putus asa. Ia kemudian melanjutkan studi di Ika Daigaku Jakarta, sekolah tinggi kedokteran yang dibuka Jepang dan lulus sebagai dokter pada 12 November 1943.

Setelah lulus jadi dokter, Soebandi terjun ke dunia militer melalui pendidikan Pembela Tanah Air (PETA). Pada tahun 1944, ia lulus menjadi perwira kesehatan dan ditugaskan di Batalyon PETA Karesidenan Malang.

Soebandi kemudian menjadi pejuang setelah ditunjuk menjadi Kepala Rumah Sakit Djawatan Kesehatan Tentara (DKT), kini RS Baladhika Husada, pada tahun 1946.

Baca Juga: Masih Aktif Setelah 100 Tahun! Salah Satu Pabrik Tertua di Jember Ini Jadi Penopang Ekspor Pertanian dan Perikanan di Bumi Pandhalungan

Di era Agresi Militer Belanda I (1947), keberadaan dokter sangat dibutuhkan. Soebandi menunjukkan keberanian dengan tetap mengoperasi prajurit TNI yang terluka parah, meski kondisinya berada di bawah tekanan Belanda.

Pada Desember 1948, ia diangkat sebagai Wakil Komandan Brigade III Damarwulan dan Residen Militer Besuki, merangkap dokter militer.

Perannya sebagai dokter dan pejuang menjadikannya sosoknya sangat diperlukan. Dokter Soebandi bahkan diminta hingga ke Jawa Tengah dan Jawa Barat.

Puncak perjuangannya terjadi pada 8 Februari 1949, saat pasukan Brigade III Damarwulan, yang dipimpin Letkol Moch. Sroedji, disergap Belanda di Desa Karang Kedawung setelah perjalanan gerilya panjang dari Kediri ke Jember.

Baca Juga: Taman Siswa Warisan Ki Hadjar Dewantara Sudah Jadi Sekolah Revolusioner sejak Zaman Kolonial Belanda

Soebandi yang berusaha menolong Letkol Sroedji terkena tembakan di kepala dan seketika gugur di tangan Belanda. 

Jenazahnya ditemukan 13 bulan kemudian pada 23 Maret 1950 oleh dr. Sugeng, diidentifikasi dari peralatan suntik dan arloji di tubuhnya, lalu dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Patrang, Jember.

Halaman:

Tags

Terkini