SketsaNusantara.id - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jember menayangkan film kisah pahlawan nasional dr. Soebandi di Alun-Alun Jember.
Film dokumenter yang diproduksi oleh TVRI Jawa Timur ini ditayangkan setiap akhir pekan. Menceritakan kisah inspiratif seorang dokter sekaligus pejuang kemerdekaan yang namanya abadi di Bumi Pandhalungan.
Harapannya, masyarakat bisa berkunjung sekaligus berwisata edukasi bersama keluarga di Alun-Alun Jember sambil menonton film dokumenter sebagai penghormatan sekaligus meneladani nilai-nilai kepahlawanan yang diwariskan dr. Soebandi.
Dilansir SketsaNusantara.id dari buku "Jejak Kepahlawanan Dokter Pejuang" karya Gandhi Wasono, Letnan Kolonel dr. Raden Mas Soebandi, atau lebih dikenal sebagai dr. Soebandi, adalah sosok dokter sekaligus pejuang kemerdekaan yang meninggalkan jejak abadi di Jember, Jawa Timur.
Lahir pada 17 Agustus 1917 di Klakah, Lumajang, dr. Soebandi gugur pada 8 Februari 1949 di Desa Karang Kedawung, Mumbulsari, Jember, saat melawan Agresi Militer Belanda II.
Kiprahnya sebagai dokter militer dan pejuang menjadikan namanya abadi, diabadikan dalam berbagai institusi di Jember, seperti Rumah Sakit Daerah (RSD) dr. Soebandi, Jalan dr. Soebandi, SMK Kesehatan dr. Soebandi, dan Universitas dr. Soebandi.
Pada 2023, Pemkab Jember bahkan mendirikan Museum Letkol dr. R.M. Soebandi di Universitas dr. Soebandi sebagai penghormatan atas jasanya di Bumi Pandhalungan.
Film dokumenter berjudul Jalan Sunyi dr. Soebandi, produksi TVRI Jawa Timur juga ditayangkan di Alun-Alun Jember Nusantara mulai 24 Mei 2025 yang rencananya akan ditayangkan setiap hari Sabtu malam pukul 20.00 WIB, sebagai upaya mengenang perjuangannya.
Dr. Soebandi merupakan putra sulung Raden Soeradi Wignjosoekarto dan Raden Ajeng Siti Mariam. Ia tumbuh besar dari keluarga ningrat yang diperbolehkan sekolah tinggi hingga jadi dokter.
Beliau menempuh pendidikan di Hollandsche Inlandsche School (HIS) Lumajang, lalu melanjutkan ke Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) Probolinggo pada tahun 1935.
Soebandi lulus pada tahun 1938 dari Algemeene Middelbare School (AMS) Surabaya. Sejak kecil ia memang memiliki cita-cita menjadi dokter.