SketsaNusantara.id - Di dalam kebun bambu yang tumbuh di Dusun Ngadiprono, Desa Ngadimulyo, Kecamatan Kedu, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, digelar pasar tradisional yang unik dan memikat perhatian banyak orang untuk berkunjung setiap Minggu Wage dan Minggu Pon.
Pasar yang buka dua minggu sekali ini mendagangkan banyak jajanan tradisional ala tempo dulu seperti suweg, onde-onde, kemplang, dan masih banyak lagi.
Selain itu, ia juga menyajikan banyak makanan berat, minuman, hingga kerajinan tangan.
Baca Juga: Berawal dari Cinta, Pasangan Ini Kembangkan Pabrik Keju Organik Premium Hingga Tembus Pasar Global
Menariknya, semua makanan tersebut dipastikan diolah menggunakan bahan-bahan alami. Tepungnya hanya menggunakan jenis mocaf yang terbuat dari singkong alami dan bebas gluten.
Produksinya juga tidak menggunakan MSG dan bahan pengawet. Sementara itu, pewarnanya alami menggunakan tanaman-tanaman yang sudah disediakan alam seperti buah naga, bunga telang, daun pandan, dan lain-lain.
Dikutip SketsaNusantara.id dari Instagram @behindthepapringan, pengelola pasar berusaha menjaga rasa jajanan tersebut sama seperti resep yang diwariskan.
Zaman dulu tidak ada pengawet-pengawet buatan seperti sekarang, jadi para penjual di Pasar Papringan tidak ingin memodifikasi resep terdahulu, terutama agar generasi muda bisa merasakan rasa jajanan asli tersebut.
Prinsip zero waste dan zero emission yang diusungnya pun membuat semua kemasan juga dibuat dari bahan organik.
Selain itu, produksi jualan pun tidak dalam jumlah besar demi meminimalisir jumlah limbah makanan.
Uniknya Pasar Papringan, pengunjung membeli belanjaan mereka menggunakan bambu atau kepingan pring yang sudah ditukar dengan uang lebih dulu sebelum masuk ke pasar.