Jenazahnya disemayamkan di rumah duka di Dusun Dagung, Desa Gonggang, Magetan, sebelum dikebumikan di TPU desa setempat.
Di warung sederhananya, Mbok Yem menyambut pendaki dari berbagai daerah dengan senyum khas dan teh manis hangat. Tempat itu bukan hanya warung makan, melainkan rumah kedua di ketinggian. Kehadirannya menjadi pelepas rindu, penawar lelah, dan pengingat akan kehangatan manusia di tengah belantara.
Banyak pendaki yang menyebut bahwa mereka naik Lawu bukan hanya karena puncaknya, tetapi juga untuk bertemu Mbok Yem. Sosoknya melampaui batas fisik sebagai penjaja makanan. Ia adalah penjaga semangat, pendamping perjalanan, dan pelita di tengah kabut tebal Lawu.
Di usia senjanya, saat orang lain memilih kenyamanan rumah dan keluarga, Mbok Yem justru menetap di puncak gunung. Ia memilih alam sebagai rumah, dan para pendaki sebagai keluarganya. Meski hanya turun sekali dalam setahun, warungnya tak pernah sepi.
Kini, warung itu mungkin masih berdiri, tapi sosok hangat yang menjaganya telah tiada. Pendaki yang datang berikutnya tak lagi disambut senyum Mbok Yem. Namun, kisah dan semangatnya akan tetap hidup di antara bisik angin dan kabut Lawu.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. Klik di sini!