Berlokasi di ketinggian ekstrem, warung ini dilengkapi fasilitas sederhana namun fungsional, seperti televisi, kulkas, lampu, dan penanak nasi.
Menariknya, Mbok Yem menggunakan panel tenaga surya untuk menghasilkan listrik seperti yang digunakan warga desa di pemukiman lereng Gunung Lawu.
Baca Juga: Unik! Kisah Warung Tertinggi di Indonesia, Sehari Layani 300 Pelanggan dengan Suhu Ekstrem
Warung ini menjadi tempat singgah sementara bagi pendaki yang membutuhkan makanan hangat, minuman, atau tempat berteduh setelah perjalanan panjang.
Keberadaannya selama lebih dari 30 tahun menjadikan warung ini bagian tak terpisahkan dari legenda Gunung Lawu, yang dalam budaya Jawa dianggap sakral.
2. Menu Sederhana Warung Mbok Yem
Menu di Warung Mbok Yem sederhana namun selalu dinanti pendaki. Nasi pecel dengan bumbu kacang khas menjadi favorit, disandingkan dengan telur ceplok goreng atau tahu dan tempe.
Minuman hangat seperti teh, kopi, dan jahe juga selalu tersedia untuk menghangatkan badan. Harganya pun sangat terjangkau, dan porsinya cukup untuk mengisi energi para pendaki.
Banyak pendaki mengenang menu nasi pecel Mbok Yem yang sederhana namun terasa nikmat, disajikan dengan minuman hangat dan keramahan pemilik warung yang membuat suasana puncak terasa seperti rumah sendiri bagi para pendaki.
3. Mbok Yem Tiap Hari Siapkan Sarapan untuk Para Pendaki
Mengelola warung di ketinggian bukanlah hal mudah. Mbok Yem rela bangun dini hari, bahkan menggoreng telur di tengah malam, demi memastikan pendaki mendapat makanan hangat.
Beliau sering kali menyiapkan stok bahan makanan yang diangkut dari bawah gunung, sebuah proses yang melelahkan mengingat medan yang curam dan cuaca yang tak menentu.
Meski usianya tak lagi muda, Mbok Yem tetap mandiri, membuatnya dikenang sebagai sosok Ibu yang menginspirasi banyak orang.