Awalnya, sekolah ini tergolong elit karena mayoritas siswinya berasal dari kalangan ningrat dan menengah ke atas.
Namun, seiring berjalannya waktu, Yayasan Kartini mulai menggalang dana dan membuka kelas pendidikan serta kursus gratis bagi gadis-gadis dari desa.
Melalui upaya ini, Kartini berhasil membuka akses pendidikan yang lebih luas bagi perempuan dari berbagai lapisan masyarakat. Ia membawa harapan dan kemajuan baru bagi masa depan perempuan Indonesia.
Kisah cinta Kartini dan Joyodiningrat memberikan inspirasi bahwa perjuangan perempuan tidak selalu berdiri sendiri.
Dukungan pasangan hidup dapat menjadi faktor penting dalam mengangkat dan memperluas pengaruh perjuangan.
Joyodiningrat bukan hanya pasangan hidup, tapi juga rekan seperjuangan yang membawa dampak positif bagi kemajuan perempuan di Indonesia.
Sayangnya, kebahagiaan pasangan ini tidak berlangsung lama. Pada 13 September 1904, Kartini wafat usai melahirkan anak pertamanya, Raden Mas Soesalit Djojoadhiningrat.
Kartini meninggal dunia pada usia 25 tahun setelah 4 hari melahirkan putranya, diduga akibat preeklamsia yakni komplikasi kehamilan yang hingga kini masih menjadi salah satu penyebab kematian ibu di Indonesia.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. Klik di sini