jelajah

Warung Jadul Berusia 2 Abad di Temanggung Ini Pernah Diawasi Tentara Jepang dan Didatangi Para Pesohor, Ada Apa di Dalamnya?

Kamis, 10 April 2025 | 21:00 WIB
Potret tampak depan Warung Jadoel yang berusia 2 abad, berdiri sejak tahun 1800-an di Temanggung dan kerap didatangi pesohor tanah air (Instagram/waroengjadoeltmg)

SketsaNusantara.id - Temanggung, Jawa Tengah menyimpan kisah menarik lewat sebuah warung makan yang sudah berdiri sejak dua abad silam.

Berlokasi di Jalan Jenderal Sudirman No. 102, Jampirejo Tengah, tempat makan unik ini dikenal dengan nama Warung Jadoel (dibaca: jadul), dan menjadi tempat makan tertua di Temanggung.

Sesuai namanya, suasana Warung Jadoel kental dengan nuansa tempo dulu. Di dalamnya, pengunjung akan menemukan berbagai peralatan makan kuno, mulai dari toples hingga meja dan kursi kayu jadul yang masih terawat.

Baca Juga: Mudik ke Solo Wajib Mampir Sini! Jelajahi Toko Jajanan Tertua Berdiri Sejak Tahun 1888, Cicipi Kue Legendaris Favorit Raja Pakubuwono X

Dilansir SketsaNusantara.id dari akun Instagram resmi @waroengjadoeltmg, warung ini ternyata berdiri sejak tahun 1800-an.

Kala itu, warung pertama kali buka pada masa penjajahan Jepang. Pemiliknya adalah Ibu Siti Sukastiyah, generasi ke-3 yang meneruskan usaha tempat makan ini dari kakeknya yakni Dullah Rujiani.

Pertama kali berdiri, warung ini awalnya tak punya nama, hingga akhirnya disebut Warung Jadoel orang masyarakat sekitar.

Baca Juga: Rekomendasi 5 Warung Makan Legendaris di Jember untuk Pecinta Kuliner Lengkap Alamat dan Jam Buka: Ada yang Berdiri Sejak Tahun 1958

Nama "Warung Jadoel" muncul dari para pelanggan yang kerap menyebutnya begitu karena tampilannya yang klasik dan otentik.

Ibu Siti menceritakan bahwa warung ini sedari dulu bukan hanya tempat makan bagi warga pribumi tetapi juga dikunjungi para tentara dan orang-orang Belanda dan Jepang.

Menariknya, warung ini dulu sering dikunjungi orang-orang Belanda dan Jepang pada masa penjajahan.

Baca Juga: Makan Minum Estetik, Ini Lokasi Jujugan Wisata Kuliner, Suguhkan Pemandangan Perbukitan Hijau di Kota Batu

Bahkan, warung ini kerap diawasi oleh tentara Jepang karena pengunjung pribumi dibatasi jumlahnya dan tidak diperbolehkan menambah porsi saat makan di sana.

Kini, Ibu Siti yang berusia 77 tahun telah mewariskan usaha ini kepada anaknya. Bangunan warung yang dahulu berbahan papan kayu, sudah direnovasi dan kini berdinding semen, namun tetap mempertahankan nuansa lawas.

Halaman:

Tags

Terkini