SketsaNusantara.id - Bangun sahur di bulan Ramadhan kini mudah berkat alarm dan ponsel.
Namun, sebelum teknologi secanggih sekarang, masyarakat Nusantara punya cara unik dan tradisional untuk membangunkan sahur. Cara-cara tersebut tak hanya efektif, tetapi juga sarat budaya dan kebersamaan.
Dari bunyi tabuhan bedug hingga nyanyian sahur berkeliling kampung, berbagai tradisi ini pernah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat.
Namun, seiring kemajuan zaman, banyak dari tradisi ini mulai ditinggalkan.
Lalu, bagaimana sebenarnya cara masyarakat dulu membangunkan sahur tanpa alarm? Dirangkum dari sejumlah sumber, berikut beberapa metode tradisional yang masih dikenang hingga kini.
1. Tabuhan Bedug
Bedug adalah salah satu alat musik tradisional yang digunakan sebagai penanda waktu ibadah di Nusantara.
Baca Juga: Bukan Dilarang Nagita Slavina, Raffi Ahmad Mendadak Absen di Program Sahur, Ada Apa?
Biasanya, menjelang waktu sahur, para penjaga masjid atau anak-anak muda di kampung akan menabuh bedug dengan irama tertentu.
Suara bedug yang nyaring mampu menjangkau berbagai penjuru desa, sehingga orang-orang dapat bangun untuk makan sahur.
2. Pawai Obor
Di beberapa daerah, seperti di Jawa dan Sumatra, tradisi membangunkan sahur dilakukan oleh sekelompok pemuda yang berjalan berkeliling kampung sambil membawa obor.