Sabtu, 4 Juli 2026

Konon Jadi Hotel di Zaman Kerajaan Majapahit, Inilah Situs Umpak Balekambang Blitar yang Sangat Bersejarah

Photo Author
Alvin Septia Wijaya, Sketsa Nusantara
- Jumat, 27 September 2024 | 14:00 WIB
Situs bersejarah Balekambang Blitar jadi tempat hotel raja di era Kerajaan Majapahit (Instagram/@reefprakoso)
Situs bersejarah Balekambang Blitar jadi tempat hotel raja di era Kerajaan Majapahit (Instagram/@reefprakoso)

SketsaNusantara.id - Blitar cukup banyak menyimpan peninggalan-peninggalan bersejarah pada era Kerajaan Majapahit.

Salah satu warisan kuno di Blitar yang masih satu era dengan Kerajaan Majapahit adalah Situs Umpak Balekambang.

Merujuk laman sidita.disbudpar.jatimprov.go.id, situs Umpak Balekambang telah menjadi tempat bersemedi dan istirahat bagi para raja sejak zaman kerajaan Kediri hingga Majapahit.

Baca Juga: Dibangun Pada Abad Ke-15, Inilah Kisah Candi Dadi di Tulungagung, Konon Tempat Pelarian Rakyat Majapahit

Bisa dikatakan, Situs Balekambang adalah hotel-hotel kuno terdahulu.

Berikut ini sejarah Situs Balekambang yang terletak di Dusun Penataran, Kecamatan nglegok, Kota Blitar.

Sesuai namanya bentuk bangunan Situs Balekambang yakni berupa umpak batu atau alas tiang rumah yang tersusun secara berderet.

Baca Juga: Punya Gaya Singasari, Candi di Blitar Ini Konon Peninggalan Kerajaan Majapahit

Diketahui jumlah umpak batu di situs Balekambang totalnya sebanyak 36 buah.

Fungsi umpak adalah sebagai tiang penyangga sebuah bangunan, menurut perkiraan, bentuk asli Situs Umpak Balekambang berupa bangunan semacam pendopo.

Dikutip SketsaNusantara.id dari disbudpar.blitarkab.go.id, Balekambang berasal dari dua kata yakni bale yang artinya tempat persinggahan dan kambang yang artinya mengambang.

Baca Juga: Intip Sejarah Peninggalan Benda Sakti dari Blitar, Sampai Bisa Taklukkan Bencana Alam! Ada Khodam Apa di Dalamnya?

Walau begitu, sampai saat ini belum ada penelitian mendalam maupun penggalian lebih lanjut pada area Situs Balekambang.

Sehingga, Penafsiran situs Balekambang masih cukup beragam dan berbeda-beda.

Halaman:

Editor: Siti Nurlaela Hanifah

Sumber: sidita.disbudpar.jatimprov.go.id, disbudpar.blitarkab.go.id

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X