SketsaNusantara.id - Di kawasan perbukitan Mangunan, Bantul, Yogyakarta, terdapat sebuah desa wisata yang berkembang dari gagasan sederhana masyarakat setempat. Bukan dibangun oleh investor besar, desa ini tumbuh dari semangat gotong royong warga yang ingin memanfaatkan potensi daerahnya untuk meningkatkan kesejahteraan bersama.
Desa Wisata Kaki Langit kini dikenal sebagai salah satu tujuan wisata berbasis masyarakat di Daerah Istimewa Yogyakarta. Berbagai aktivitas wisata, budaya, kuliner, hingga edukasi dikembangkan dengan melibatkan warga sebagai pelaku utama.
Keberadaan desa wisata ini menjadi bagian penting dari perkembangan pariwisata di kawasan Bantul timur yang terus menarik perhatian wisatawan dari berbagai daerah.
Desa Wisata Kaki Langit dibentuk pada 9 Maret 2014. Pembentukannya merupakan hasil musyawarah tokoh masyarakat yang tergabung dalam KKLPMD Pedukuhan Mangunan. Saat itu, masyarakat melihat peluang besar dari perkembangan sektor pariwisata yang semakin pesat di wilayah tersebut.
Nama Kaki Langit memiliki makna filosofis yang menjadi dasar pengembangan desa wisata ini. Kata "kaki" dimaknai sebagai alat untuk terus bergerak dan melangkah meskipun menghadapi berbagai tantangan. Sementara "langit" menggambarkan ruang yang luas tanpa batas.
Filosofi tersebut menjadi semangat untuk menggerakkan masyarakat dalam menciptakan peluang ekonomi baru melalui sektor pariwisata. Berbagai potensi lokal kemudian dikembangkan menjadi program pemberdayaan yang melibatkan banyak warga.
Salah satu program unggulan adalah Atap Langit. Program ini memanfaatkan rumah-rumah warga sebagai homestay bagi wisatawan. Banyak rumah tradisional berbahan kayu yang kemudian ditata ulang untuk menerima tamu tanpa menghilangkan karakter khas pedesaan Mangunan.
Selain penginapan, desa ini juga mengembangkan Rasa Langit yang berfokus pada kuliner tradisional. Wisatawan dapat menemukan berbagai makanan khas seperti gudeg manggar, thiwul, kicak, mie lethek, gudangan, pecel, hingga wedang uwuh yang menjadi bagian dari kekayaan kuliner setempat.
Sektor budaya dikembangkan melalui program Budaya Langit. Berbagai kesenian tradisional seperti gejog lesung, karawitan, ketoprak, wayang pethilan, hingga mocopat tetap dilestarikan dan ditampilkan sebagai bagian dari atraksi wisata.
Bukan hanya pertunjukan seni, tradisi masyarakat seperti kenduri, mitoni, wiwitan, dan prosesi lamaran juga diperkenalkan kepada wisatawan yang ingin mengenal budaya Jawa lebih dekat.
Bagi penyuka petualangan, tersedia Langit Terjal yang menawarkan pengalaman menjelajahi kawasan perbukitan menggunakan kendaraan jeep maupun motor trail. Program ini dirancang untuk menjangkau lokasi-lokasi yang sulit diakses kendaraan biasa.
Generasi muda juga memiliki peran penting melalui Langit Ilalang. Kelompok pemuda setempat mengembangkan berbagai aktivitas seperti outbound, jelajah alam, hingga kegiatan edukatif yang melibatkan wisatawan.
Artikel Terkait
6 Tempat Wisata Mojokerto 2026 yang Bikin Penasaran, Ada Cafe Alam hingga Sawah Instagramable
20 Tempat Wisata Blitar 2026 yang Wajib Dikunjungi, dari Hutan Pinus sampai Telaga Eksotis yang Viral
Ada Mushola, Gereja, dan Pura dalam Satu Kompleks Vihara Terbesar ke-2 di Pulau Jawa, 11 Wisata Kabupaten Pamekasan 2026 ini Wajib Dikunjungi
Ada Wisata dengan Mitos Awet Muda di Nganjuk, 13 Tempat Liburan 2026 Ini Ramai Dicari Wisatawan
Belajar dari Tragedi Kematian 1 Keluarga di Wisata Posong, Berikut Cara Mewaspadai Gas Mematikan Saat Berkemah dan Cara Aman Masak Pakai Gas Portable