SketsaNusantara.id - Desa wisata yang tumbuh dari inisiatif warga kini menjadi salah satu daya tarik di Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Desa Wisata Pulesari berdiri atas semangat kebersamaan masyarakat. Konsep pengelolaannya lahir dari warga, dikelola bersama, dan ditujukan untuk kesejahteraan desa. Gotong royong menjadi dasar utama pembentukan kawasan wisata ini.
Gagasan pembentukan desa wisata muncul dari kesadaran akan potensi wilayah.
Alam, budaya, dan tradisi lokal dinilai perlu dilestarikan. Warga kemudian menyepakati pengembangan pariwisata tanpa menghilangkan esensi pedesaan. Konsep pariwisata mulai dicanangkan pada 26 Mei 2012.
Berdasarkan keterangan yang dilansir dari Jogjaprov.go.id, peluncuran Desa Wisata Pulesari dilakukan pada 9 November 2012. Peresmian tersebut dilakukan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Sleman.
Sejak saat itu, desa ini berkembang menjadi destinasi wisata alam dan budaya. Pengelolaan dilakukan secara mandiri oleh masyarakat sadar wisata.
Desa Wisata Pulesari menyuguhkan potensi alam yang masih terjaga. Lingkungan pedesaan dengan sungai jernih menjadi daya tarik utama.
Perkebunan salak tertata rapi di sepanjang kawasan desa. Suasana khas pedesaan langsung terasa saat pengunjung tiba.
Konsep Go Green dan Back to Nature diterapkan dalam pengelolaan desa wisata ini. Pemanfaatan alam dilakukan secara wajar dan berkelanjutan. Pengembangan kawasan tidak mengubah karakter pedesaan. Nilai-nilai budaya tetap dijaga agar tidak tergerus modernisasi.
Budaya tradisi menjadi bagian penting dalam aktivitas desa. Masyarakat tetap melestarikan kebiasaan dan nilai lokal. Tradisi dijalankan berdampingan dengan aktivitas pariwisata. Hal tersebut menjadi ciri khas Desa Wisata Pulesari.
Potensi utama desa ini terletak pada agrowisata salak. Wisatawan diajak mengenal proses budidaya salak secara langsung. Selain itu, pengunjung dapat mencicipi berbagai olahan berbahan dasar salak. Produk yang tersedia cukup beragam dan diolah oleh warga setempat.
Olahan salak yang ditawarkan meliputi dodol, wingko, bakpia, dan enting-enting. Selain itu, tersedia nastar, kerupuk, madumongso, dan bakwan salak. Ada pula nogosari, sambal, oseng-oseng, hingga kolak salak. Semua produk dibuat sebagai bagian dari pengalaman wisata.
Artikel Terkait
Libur Panjang Isra Mi’raj, BPBD Jember Perketat Pengamanan di Destinasi Wisata
Desa Wisata Srimulyo di Bantul, Destinasi Alam dan Budaya di Antara Sungai Opak dan Gawe yang Terus Berkembang Berbasis Komunitas
Diakui Dunia, Desa Wisata Wukirsari Bantul Raih Predikat 55 Desa Wisata Terbaik Dunia
Gunung Api Purba dan Embungnya Mendunia! Inilah Pesona Desa Wisata Nglanggeran di Gunungkidul yang Jadi Magnet Wisata
7 Alasan Desa Wisata Krebet Bantul di Yogyakarta Menarik Dikunjungi, Ada Kerajinan Batik Kayu sampai Prestasi Nasional