SketsaNusantara.id – Perdebatan antara kreator konten Ferry Irwandi dengan penulis sekaligus pemerhati sejarah, Zen RS belakangan menjadi sorotan publik.
Diskusi yang bermula dari pembahasan mengenai Tan Malaka itu berujung pada menghilangnya akun Threads milik Zen RS yang seketika jadi perbincangan hangat di media sosial.
Menariknya, perdebatan tersebut akhirnya berujung pada permintaan maaf Ferry Irwandi setelah mengakui adanya kekeliruan dalam penyampaian salah satu pernyataannya yang semakin memicu rasa penasaran warganet.
Lantas, apa yang sebenarnya terjadi dan bagaimana kronologi kejadian ini hingga memicu perdebatan antara Ferry Irwandi dan Zen RS di media sosial?
Perdebatan ini bermula ketika Ferry Irwandi memposting sebuah utas di akun Threads miliknya pada Kamis, 25 Juni 2026.
Dalam unggahannya, Ferry menyoroti fakta bahwa Tan Malaka pernah bekerja sebagai guru di Deli, Sumatera Utara, pada masa kolonial Belanda. Ia juga menyebut nominal gaji yang diterima Tan Malaka saat itu sebagai salah satu gaji tertinggi yang diterima pribumi pada masa itu.
"Kalau kamu membaca Tan Malaka dari quote internet, maka kamu mungkin kaget mengetahui bahwa Tan Malaka pernah dibayar Belanda untuk bekerja sebagai guru sekaligus pengawas sekolah di perkebunan Senembah Maatschappij di Deli, Sumatera Utara," tulis Ferry dikutip SketsaNusantara.id dari akun Threads @irwandiferry.
"Gaji Tan Malaka saat itu adalah f.150 (gulden) per bulan. Salah satu gaji tertinggi yang dibayarkan pemerintah Belanda kepada Bumi Putra saat itu. Tan Malaka menerimanya, bekerja dan membangun sekolah dari uang tersebut," sambungnya.
Unggahan tersebut kemudian mendapat tanggapan dari Zen RS. melalui akun Threads anonim, penulis yang dikenal banyak mengkaji sejarah Tan Malaka itu menilai terdapat kekeliruan dalam penjelasan Ferry.
Dalam tulisannya, Zen mengungkap fakta bahwa Tan Malaka memang bekerja sebagai guru di lingkungan perkebunan Senembah Maatschappij, namun perusahaan tersebut merupakan perusahaan swasta, bukan institusi pemerintah kolonial Belanda.
"Keliru, Fer. Tan Malaka gak digaji oleh Belanda, gajinya sebagai guru tidak dibayarkan pemerintah Belanda. Senembah Maatschappij itu perusahaan perkebunan swasta, jadi Tan digaji oleh swasta (ini dari Poeze)," tulis Zen melalui akun Threads @esaipendek.
Zen juga meluruskan nominal gaji yang diterima Tan Malaka. Berdasarkan sumber yang digunakannya, Tan memperoleh gaji sebesar 350 gulden per bulan, bukan 150 gulden sebagaimana disebut Ferry. Selain itu, ia juga menjelaskan alasan Tan Malaka tak di sekolah pemerintah kolonial pada zaman itu.