Menurutnya, program MBG dinilai sangat kompleks, terutama ketika diterapkan di wilayah 3T yang memiliki tantangan logistik dan keterbatasan sumber daya.
"Program MBG ini sangat complex terutama untuk 3T dari logistic, ketersediaan bahan, SDM, dll," tulisnya.
Chef Arnold menilai masih banyak pihak lain yang memiliki kapasitas dan pemahaman lebih baik untuk terlibat langsung dalam pengelolaan program tersebut. Karena itu, ia memilih untuk tidak terlibat lebih jauh dan memilih tak bergabung dengan BGN.
"Saya rasa banyak orang lain yang lebih hebat, capable dan paham lebih dari saya," lanjutnya.
Dalam unggahannya, Arnold menyatakan bahwa dirinya telah memberikan seluruh masukan dan telah disampaikan kepada BGN. Chef asal Surabaya itu berharap rekomendasi tersebut dapat membantu pemerintah menyusun strategi pelaksanaan MBG yang lebih efektif ke depannya.
"Semua masukan tentang operasional sudah kami sampaikan dan semoga (pelaksanaan program MBG) bisa lebih strategis," pungkasnya.
Keputusan Chef Arnold untuk tidak bergabung dengan BGN pun menuai beragam tanggapan dari warganet. Sebagian mendukung langkah tersebut dan menilai dirinya telah mengambil keputusan yang tepat.
"Udah 1,5 tahun BGN beroperasi sekarang malah jadi carut marut gara-gara kepala BGN sebelumnya korup. Udah paling benar Chef Arnold nggak usah ikutan dulu, soalnya perencanaannya masih berantakan," tulis seorang warganet.
Sementara itu, warganet lain mengapresiasi keterlibatan Chef Arnold yang lebih tepat sebatas memberikan masukan terkait operasional dapur dan penyajian makanan.
"Good choice, Chef. Memang lebih baik BGN fokus berbenah dengan orang yang tepat. Bukan berarti Chef Arnold nggak bisa, tapi beliau memang ahli kuliner. Untuk urusan gizi dan tata kelola program sebesar ini seharusnya ditangani oleh pihak yang benar-benar kompeten di bidangnya," tulis warganet lainnya.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. Klik di sini