Kalimat tersebut berarti, "Di negara ini selalu saja berulang tradisi yang sama. Janji tanpa aksi bikin kita amsyong". Perkataan Ajeng tersebut seolah menjadi sindiran halus bagi pemerintahan Prabowo saat ini.
Unggahan Ajeng pun langsung viral dan dibanjiri berbagai komentar dari warganet. Banyak yang merasa terwakili dan mempertanyakan instruksi Presiden Prabowo terkait pembelajaran bahasa Prancis di sekolah tanpa memperhatikan kondisi Indonesia saat ini.
Bahkan, publik menyebut langkah Presiden yang dinilai terburu-buru atau sekedar pencitraan untuk mendapat perhatian dari pemimpin negara lain.
"Aneh juga kenapa sih diwajibkan belajar bahasa prancis. Bahasa Indo aja belum tentu bener semua, toh juga orang desa gak pake bahasa inggris, heran presiden satu ini ada ada aja gebrakannya. Kasian guru-guru honorer makin nambah kerjaannya," komentar salah satu netizen.
"Dari kecil sampai dewasa sekarang ini bangga berbahasa Indonesia, bahkan udah digunakan di sidang umum UNESCO PBB. Artinya bahasa kita juga nggak kalah keren. Ini lagi presiden suruh belajar bahasa asing buat apa? Presiden pengen dipuji pemimpin luar negeri tapi bikin kebijakan yang bikin repot warganya, kocak!" imbuh warganet lainnya.
"Presiden kita ini suka banget jalan-jalan ke luar negeri. Pidato ke Paris bilang Indonesia suruh belajar bahasa Perancis, terus ke Brazil bilang sekolah-sekolah perlu belajar bahasa Portugis. Ke Korea pun minta konser K-Pop ditambah, tapi kalo Pidato ke rakyat kalo dikritik nyalahin antek-antek asing," sindir netizen lainnya.
Dalam caption unggahannya, Ajeng juga secara satir menyinggung sulitnya menjadi pelajar di masa sekarang karena Presiden banyak menuntut agar anak-anak Indonesia bisa belajar banyak bahasa asing.
Menurutnya, belajar bahasa Inggris saja terbilang cukup susah diajarkan di sekolah, belum lagi kini ditambah instruksi lain soal wacana penambahan mata pelajaran bahasa Prancis dan Portugis.
"Siapin LAMBEMU SING KRITING!! Menuju Indonesia rajin makan KROWASONG dan PARLER FRANÇAIS. Mmm… syusyah ya jadi anak sekolah zaman sekarang, dulu belajar bahasa Inggris aja mentok di NO SMOKING dan AI LOP YU," tulisnya.
Unggahan Ajeng Kamaratih mencuri perhatian karena tak hanya menyinggung soal kebijakan pelajaran berbahasa tetapi juga soal nilai tukar rupiah.
Perkataannya soal 'tradisi berulang' hingga 'janji tanpa aksi', seolah menyampaikan sindiran halus ke Presiden yang harusnya memikirkan hal lebih penting demi kesejahteraan rakyat, terlebih setelah dampak pelemahan rupiah yang kini berada di titik terendah sepanjang sejarah.
Hingga kini, instruksi Presiden Prabowo mengenai pembelajaran bahasa Prancis masih terus menuai pro dan kontra di tengah masyarakat.
Sebagian mendukung sebagai langkah membuka wawasan global generasi muda, sementara lainnya menilai pemerintah seharusnya lebih fokus pada persoalan ekonomi dan pendidikan dasar yang masih menjadi tantangan utama di Indonesia.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. Klik di sini