"Saya di Indonesia sebagai excecutive chef nggak ngurusin begituan, jadi ya itu tugasnya sous chef. Tapi culture di sini, mau nggak mau terima juga meskipun agak berat," tuturnya.
Tak berhenti sampai di situ, Juna juga mengaku kerap mengungkapkan kekecewaannya dengan memberi pelajaran kepada chef yang mendadak izin ketika kembali bekerja keesokan harinya.
"Besoknya mungkin pas dia masuk, I give him hell. Mending kalau dimarahin, saya bikin hidupnya susah. Saya kasih tes, belum selesai kasih tes lagi. Kalo lama kerjanya saya suruh pulang aja. Dengan cara kerja saya yang tegas begitu," pungkasnya.
Baca Juga: Heboh Kasus Foto Siomay Chef Devina, Pawon Kopi Bu Cetarrr Milik Aisyahrani Akhirnya Klarifikasi!
Perkataan Chef Juna tersebut mengundang beragam komentar dari warganet hingga menuai perdebatan di media sosial.
Sebagian warganet memahami kerasnya budaya kerja di dapur profesional yang memang menuntut tanggung jawab tinggi dan disiplin penuh.
Namun di sisi lain, banyak pula yang menilai ucapan Chef Juna kurang menunjukkan empati terhadap kondisi keluarga, terutama ketika anak sedang sakit.
"Sebagai pemilik usaha aku paham perasaan chef. Tapi sebagai orang tua mungkin ada pemikiran tersendiri. Ada juga cerita kan anak sakit sampai meninggal yang bikin bapaknya nyesel, tapi tanggung jawab di kerjaan juga gak bisa tinggal gitu aja," tulis salah satu warganet.
"Anak sakit memang bisa diurus istri, tapi istri juga butuh peran ayah karena ngurus anak itu berat. Kepala keluarga kerja cari duit buat anak, tapi ketika si ayah gak bisa dibutuhkan di dekat anak ketika masa rawannya dia juga berat," komentar netizen lainnya.
Baca Juga: Rayakan Ulang Tahun ke-50, Chef Juna Ajak Sang Kekasih Citra Anidy Naik ke Puncak Gunung Agung Bali
Di tengah ramainya perdebatan, Chef Juna terlihat menyisipkan emoji permintaan maaf di kolom komentar unggahan podcast tersebut.
Meski menuai kritik, tak sedikit pula netizen yang membela pandangan Chef Juna sebagai professional kitchen. Mereka menilai setiap keluarga memiliki pembagian peran masing-masing, termasuk dalam urusan pekerjaan dan pengasuhan anak.
"Sebagai professional chef memang berat kerjaannya, nggak bisa ditinggal karena tanggung jawab besar. Aku udah punya anak, suamiku kerja dan aku IRT (ibu rumah tangga). Kalau anak sakit ya aku yang urusin selama masih bisa di-handle," tulis seorang netizen.
"Selalu akan ada pro dan kontra sama statement ini, apalagi peraturan di tempat kerja emang faktanya keras kaya gini. Terkadang tegas juga banyak disalahartikan, cuma aku sebagai HRD memang faktanya cukup banyak menemui karyawan 'manja', jadi nggak salah juga," tulis warganet lainnya.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. Klik di sini