Sindrom Peter Pan ini biasanya berawal dari pola pengasuhan orang tua yang selalu memanjakan atau terlalu protektif melindungi dan menuruti semua kemauan anak sejak kecil.
Akibatnya, anak tumbuh dengan rasa selalu terlindungi dan kurang memiliki ketahanan dalam pengembangan pola hidup mandiri. Anak akan sering beralih melakukan kesenangannya meski ia tak lagi muda, sehingga kesulitan menghadapi tantangan hidup saat memasuki usia dewasa.
Beberapa pola perilaku yang kerap dikaitkan dengan sindrom ini antara lain menghindari tanggung jawab (seperti menunda pembayaran tagihan), menunjukkan sikap manja dan bergantung pada orang lain, takut berkomitmen secara emosional maupun finansial, kurang mandiri, serta cenderung menyalahkan orang lain.
Meski demikian, penting diketahui bahwa Peter Pan Syndrome bukanlah diagnosis medis formal. Istilah ini lebih merujuk pada kumpulan pola perilaku yang bisa merugikan diri sendiri jika tidak disadari jika tidak diatasi sedari awal.
Bagi Onad, mengetahui kondisi tersebut justru menjadi kesempatan untuk memperbaiki diri. Ia kini berusaha lebih reflektif dan bertanggung jawab terhadap keputusan hidupnya.
Pengalaman selama menjalani rehabilitasi, menurutnya, menjadi momen penting untuk belajar tumbuh dan menghadapi kenyataan hidup dengan berpikiran lebih dewasa.
Dukungan mengalir deras untuk menyemangati Onad, termasuk dari Habib Jafar hingga Deddy Corbuzier. Beby juga berharap suaminya bisa menjaga komitmen untuk hidup sehat dan bisa meninggalkan kebiasaan buruk di masa lalu agar tak terjerumus dalam kesalahan yang sama.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. Klik di sini