Warganet mengingatkan pentingnya sensitivitas sosial dalam melakukan kampanye atau komunikasi publik dan menyebut sikap Prilly terlalu gegabah yang dinilai bisa berdampak negatif di masa depan.
"Buat siapapun agency dan tim yang handle campaign Sensodyne, gak ada kah satupun di antara kalian yang mikir kalo lapangan kerja di negara ini dalam tahap kronis? Pentingnya etika dalam berbisnis, marketing kalian sangat tidak empatik di tengah issue sosial beratnya perjuangan para pencari kerja," tulis salah satu warganet.
"Tone deaf. Offering kerjaan udah pasti banyak karena Prilly udah terkenal sebagai publik figur. Gimmick yang nggak lucu dan sok asik, nirempati, gak peduli di tengah kondisi susahnya cari kerja dan banyak perusahaan yang struggle karena daya beli masyarakat turun akibat kena dampak PHK," imbuh netizen lainnya.
"Prilly seolah pamer bisa makan enak, saat banyak orang lain kelaparan, wajar kalo banyak yang marah. Takutnya, offering 30 ribu job dari campaign ini malah dijadikan opini oleh pemerintah dan nunjukin kalo di Indonesia sebenarnya banyak lapangan kerja dan dianggap baik-baik saja, padahal kenyataannya nggak, dampaknya ngeri banget," timpal warganet lainnya.
Terlepas dari banyaknya kritikan publik, Prilly mengungkapkan penyesalannya dan berusaha untuk lebih berhati-hati dalam menentukan sikap untuk tidak kembali melakukan kesalahan yang sama.
"Ke depannya, aku tetap berkomitmen untuk menjalankan dan melanjutkan kerjasama, serta kegiatan yang memberikan dampak positif bagi banyak orang, dan komitmen ini akan terus menjadi prioritas utamaku," kata Prilly.
"Sekali lagi, aku ingin minta maaf karena telah menimbulkan situasi yang tidak nyaman bagi teman-teman semua. Terima kasih atas masukan, perhatian, dan pengertian dari kalian semua," pungkasnya.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara. Di sini. KLIK DI SINI!