SketsaNusantara.id - Komika Arie Kriting kembali menjadi perbincangan luas di media sosial setelah sebuah pernyataannya memicu perdebatan panjang di kalangan warganet. Cuitan tersebut muncul di tengah polemik yang menyeret nama penyanyi Sal Priadi dan Sitok Srengenge, sosok yang sebelumnya dikaitkan dengan dugaan kasus pelecehan seksual dan kembali ramai diperbincangkan publik.
Melalui akun X miliknya, Arie menyampaikan pandangan mengenai maraknya perdebatan di media sosial yang kerap mengiringi kasus kekerasan seksual. Ia menilai, konflik pendapat antarwarganet terjadi bukan tanpa sebab, melainkan berakar pada lemahnya kepastian hukum dalam menangani kasus-kasus tersebut.
“Menurut pendapat saya, semua pertikaian sosmed mengenai kasus kekerasan seksual terjadi karena negara gagal memberikan kepastian hukum,” tulis Arie dalam cuitannya.
Ia beranggapan, ketidaktegasan sistem hukum membuat masyarakat akhirnya saling berhadap-hadapan, mempertanyakan posisi dan sikap satu sama lain, alih-alih memperoleh kejelasan dari aparat dan lembaga negara yang seharusnya bertanggung jawab.
Namun, pandangan tersebut justru memicu respons keras dari warganet. Banyak pengguna media sosial menilai bahwa perdebatan dan kebisingan publik bukanlah masalah, melainkan bentuk perjuangan untuk menuntut keadilan, terutama ketika jalur hukum kerap dianggap tidak berpihak kepada korban.
Sejumlah warganet menegaskan bahwa banyak kasus kekerasan seksual baru mendapat perhatian serius setelah menjadi sorotan publik. Bagi mereka, bersuara adalah strategi bertahan sekaligus alat tekanan moral agar kasus tidak menguap tanpa penyelesaian.
Polemik ini tidak bisa dilepaskan dari konteks yang lebih luas, yakni kontroversi yang menimpa Sal Priadi. Penyanyi tersebut menuai kritik dan pembelaan setelah beredar foto dirinya bersama Sitok Srengenge. Foto tersebut memicu diskusi panjang tentang sensitivitas publik figur terhadap isu kekerasan seksual dan tanggung jawab moral di ruang publik.
Melihat eskalasi reaksi warganet, Arie Kriting akhirnya menyampaikan klarifikasi sekaligus permohonan maaf. Ia menegaskan bahwa pernyataannya tidak dimaksudkan untuk membungkam suara masyarakat yang konsisten membela korban pelecehan seksual.
“Mohon maaf kalau tweet saya menimbulkan kerancuan. Tweet itu tidak ditujukan kepada yang setia bersuara melawan kasus pelecehan seksual,” ujar Arie dalam klarifikasinya.
Ia menjelaskan, kemarahan yang ia sampaikan justru diarahkan pada kondisi negara yang dinilainya belum mampu memberikan perlindungan dan keadilan yang memadai. “Tweet itu karena saya kesal lihat rakyat terus saja berada di posisi sulit karena lemahnya penegakan hukum atas isu-isu semacam ini,” lanjutnya.
Klarifikasi tersebut menutup sementara polemik, meski diskusi publik mengenai relasi antara suara masyarakat, peran negara, dan keadilan bagi korban kekerasan seksual masih terus mengemuka di ruang digital.***