Bersama rekannya Boy Candra, Khairen langsung meninjau lokasi-lokasi yang terdampak. Di lapangan, ia menemukan banyak dapur umum yang tidak kondusif dan penyebaran bantuan yang tidak merata.
“Ada banyak dapur umum tidak kondusif. Bahan makanan ada yang melimpah, ada yang kurang. Paling penting itu alat untuk masak dan relawan buat masaknya,” tuturnya.
Ia menemukan sebuah desa dengan 3 RT berisi sekitar 1.200 orang yang masih kesulitan mendapatkan makanan. Lebih miris lagi, terdapat satu lereng dengan 20 kepala keluarga yang sama sekali tidak tersentuh bantuan.
“Yang 20 ini blindspot. Isinya ibu-ibu, perempuan semua. Mereka takut, belum makan sejak kemarin atau tadi pagi,” tulis Khairen.
Pengalaman itu membuatnya semakin sadar bahwa informasi di media sosial tidak cukup menggambarkan urgensi situasi sebenarnya.
Khairen menyebut bahwa banjir bandang ini bukan hanya akibat hujan deras, tetapi hasil dari kerusakan lingkungan yang dibiarkan menumpuk.
“Ingat, ini bukan bencana alam. Kita harus tuntut mereka yang punya tanda tangan di balik kertas-kertas itu. Tanda tangan yang sewenang-wenang dan merenggut hidup kalian,” tegasnya.
Dalam unggahan lainnya, ia memperingatkan publik agar tidak cepat lelah dalam peduli.
“Kawan, kamu lelah peduli pada kejadian ini? Tidak apa. Bulan depan atau tahun depan, boleh jadi rumahmu yang kena,” ucapnya.
Ia juga menyebut bahwa berbagai pihak telah berkali-kali mengungkap fakta mengenai deforestasi, penebangan liar, hingga aktivitas tambang.
“Sudah bertubi-tubi fakta dipaparkan banyak pihak. Soal deforestasi, penggundulan, tambang. Kamu kira semua orang Indonesia tidak paham?” ungkapnya.
Ungkapan ini menjadi refleksi keras mengenai tanggung jawab jangka panjang yang harus ditanggung pemerintah dan pelaku industri.
Khairen mengajak masyarakat untuk menjadi relawan dengan memahami kebutuhan sebenarnya. Berdasarkan pengamatannya, ada dua hal paling penting yang dibutuhkan saat ini.
“Bahan mentah sudah mulai tersebar rata, yang kurang itu alat memasak dan tenaga untuk memasak. Tenaga kesehatan, alat-alatnya, dan obat-obatan. Ini sangat dibutuhkan,” jelasnya.
Ia juga mendorong para korban untuk lebih berani memperjuangkan bantuan, tanpa rasa sungkan.